Kukar – Duka mendalam menyelimuti warga Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), setelah kobaran api merenggut nyawa dua anak bersaudara. Tragedi tersebut mendapat perhatian serius Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, yang memastikan pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan bagi keluarga korban dan masyarakat terdampak.
Kebakaran yang terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam itu menewaskan dua anak berusia 7 tahun dan 3 tahun. Ayah kedua korban, Hamri Noor, mengalami luka bakar sekitar 75 persen ketika berusaha menyelamatkan anak-anaknya dari kobaran api. Ia dijadwalkan menjalani tindakan operasi di RSUD Aji Muhammad Parikesit pada Rabu (14/10/2026).
Aulia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa tersebut. Ia juga menaruh perhatian terhadap kondisi Hamri Noor yang harus mendapatkan penanganan medis akibat luka bakar serius.
“Kita berbela sungkawa atas terjadinya kebakaran tadi malam, apalagi sampai merenggut korban jiwa. Ada dua orang anak umur 7 tahun dan 3 tahun, dan orang tuanya hari ini, pagi ini akan dioperasi di Rumah Sakit Aji Muhammad Parikesit karena memiliki luka bakar seluas 75 persen,” ujarnya.
Menurut Aulia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar telah menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk merumuskan penanganan pascakebakaran. Langkah tersebut mencakup kebutuhan mendesak masyarakat hingga upaya pemulihan yang direncanakan secara bertahap.
“Jadi kami sudah berkoordinasi dengan teman-teman di lapangan, kita melakukan proses mitigasi sama strategi kita, jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang,” kata dia.
Pada tahap awal, pemerintah daerah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar agar warga yang kehilangan harta benda tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak sekolah yang perlengkapan pendidikannya ikut terdampak kebakaran.
“Jangka pendek kita, bagaimana warga masyarakat kita yang ada di sekitar itu tidak terhalang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Yang sekolah, seragam sekolahnya ketika tidak ada nanti kita upayakan untuk mengadakan itu dan lain sebagainya, sehingga kita bisa mengurangi beban dari warga masyarakat kita yang terkena musibah kebakaran,” jelasnya.
Selain memastikan penanganan korban, Aulia mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran di lingkungan permukiman. Menurutnya, langkah pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memastikan api di dapur telah padam sebelum tidur dan mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan keamanan instalasi listrik, terutama ketika rumah ditinggalkan dalam waktu lama. Tindakan tersebut dinilai penting untuk mengurangi potensi kebakaran akibat gangguan kelistrikan.
“Bahkan ketika meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya listrik yang ada di rumah itu dimatikan total sehingga tidak menimbulkan kemungkinan korsleting listrik di rumah-rumah kita,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Rinda Desianti, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah awal dengan meminta jajaran terkait melakukan pendataan terhadap dampak kebakaran. Koordinasi bersama pemerintah kecamatan dilakukan untuk memastikan jumlah rumah yang terbakar, bangunan terdampak, serta warga yang membutuhkan bantuan.
Hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan berupa kebutuhan makanan dan pakaian. Dinsos Kukar juga berencana berkomunikasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) mengenai kemungkinan pemberian santunan kepada keluarga dua anak yang meninggal dunia serta bantuan bagi korban yang menjalani perawatan medis.
“Untuk korban meninggal dunia, rencananya kami akan berkomunikasi dengan Kementerian Sosial terkait santunan kematian untuk dua anak tersebut. Termasuk juga korban yang saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit, akan kami koordinasikan terkait bantuan santunannya,” ungkapnya.
Rinda menerangkan bahwa Dinsos Kukar tidak mempunyai alokasi anggaran khusus untuk program santunan kematian. Oleh karena itu, pihaknya akan mengupayakan koordinasi dengan Kemensos setelah seluruh informasi mengenai korban dan dampak kebakaran terkumpul secara lengkap.
“Rencananya, setelah data lengkap kami terima, segera kami komunikasikan dengan Kemensos. Paling lambat besok akan kami komunikasikan, asalkan datanya sudah kami terima,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya ketelitian dalam proses pendataan agar bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Pengalaman penanganan kebakaran sebelumnya menjadi bahan evaluasi, khususnya terkait perubahan data penerima bantuan yang dapat memengaruhi proses distribusi.
Rinda turut mengungkapkan keprihatinannya terhadap rentetan kebakaran yang melanda sejumlah wilayah Kukar dalam beberapa pekan terakhir. Sebelum musibah di Loa Ipuh, kejadian serupa dilaporkan berlangsung di Separi, Kelurahan Melayu, dan Kecamatan Muara Muntai.
“Saya juga merasa sedih karena hampir setiap minggu terjadi kebakaran. Sebelum kejadian di Tenggarong, ada kebakaran di Separi yang juga terjadi berulang kali. Minggu sebelumnya, kebakaran terjadi di Kelurahan Melayu dan Muara Muntai. Setelah bantuan di Muara Muntai selesai kami salurkan, sekarang terjadi kebakaran lagi,” tuturnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Rinda meminta masyarakat semakin memperhatikan keamanan lingkungan rumah. Ia juga mengingatkan potensi peningkatan risiko kebakaran di tengah kondisi kekeringan yang dikaitkannya dengan fenomena El Nino.
Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala serta kebiasaan mencabut perangkat elektronik yang tidak digunakan menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan. Kewaspadaan seluruh warga diharapkan dapat membantu menekan kemungkinan terulangnya peristiwa serupa.
Tragedi kebakaran Loa Ipuh menjadi pengingat pentingnya keselamatan lingkungan permukiman. Di tengah duka keluarga korban, Pemkab Kukar berupaya memastikan bantuan kebutuhan dasar segera ditangani, sementara koordinasi santunan dan pemulihan warga terdampak terus dipersiapkan. (Adv)
