Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) telah lama menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kebesaran Islam di Indonesia. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, terdapat fenomena menarik terkait dengan perubahan dalam model kepemimpinan dan gaya komunikasi di berbagai cabang, wilayah, hingga MWC NU. Perubahan ini menyiratkan adanya kepemimpinan intimidatif yang mencuat sebagai tantangan terhadap keberlanjutan NU sebagai kekuatan Islam yang mengagungkan khoshoish (karakter) dan kepribadian.Beberapa kejadian mencolok menunjukkan pola komunikasi struktural dan gaya kepemimpinan yang menyalahi prinsip-prinsip keikhlasan dan akhlaqul karimah.
Sikap marah-marah dari seorang pimpinan PBNU terhadap PCNU Ngawi serta keputusan “diskors” Konfercab Ulang adalah contoh nyata dari model kepemimpinan yang kurang elok dan tidak pernah diajarkan oleh para pendahulu NU. Gaya komunikasi seperti ini lebih mirip dengan atasan dan bawahan dalam lingkup birokrasi atau majikan dan buruh, bukan seperti pembimbingan keagamaan yang penuh kelembutan dan kasih sayang.
NU, Islam, dan Tradisi Sanad yang Istimewa
NU mengakar pada prinsip keagungan Islam ala madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Yang menjadikannya istimewa adalah tradisi sanad yang dipegang teguh dan terimplementasi dalam sistem organisasi, kelembagaan, kepemimpinan, dan perjuangannya. Umat NU adalah pewaris perjuangan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallama, sehingga karakter NU mencerminkan sepenuhnya keagungan Islam itu sendiri dalam tradisi kenusantaraan.Para salafus sholihin, auliya’, muassis NU, dan para ulama shodiqin menjadi rujukan utama dalam pemikiran, sikap, perilaku, tindakan, dan kepemimpinan di NU. Sanad (sandaran) ini menjadi kekhususan umat ini, yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Oleh karena itu, meneguhkan karakter dan kepribadian NU adalah upaya untuk menghormati warisan perjuangan para pendahulu dalam membentuk Islam di Nusantara.
Tantangan dalam Pemeliharaan Tradisi Sanad NU
Pergeseran posisi, cara gerak, dan kepemimpinan yang terjadi dalam NU saat ini memunculkan kegelisahan dan keresahan di berbagai tempat. Perubahan ini harus dicermati dengan mempertimbangkan sudut pandang sanad, baik dalam kerja pertimbangan jam’iyah, legislatif, eksekutif, maupun perangkat jam’iyah.Pentingnya menjaga dan mengembangkan karakter serta kepribadian NU sesuai konteks merupakan substansi dari NU, bukan sekadar slogan. Pengelolaan organisasi, perjuangan dakwah, kepemimpinan, dan komunikasi di NU harus tetap mengedepankan keikhlasan dan akhlaq mulia, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallama.
Menuju Masa Depan yang Kokoh dan Berkarakter
Menjaga kekhususan NU sebagai Islam itu sendiri dengan mempertahankan tradisi sanad menjadi tugas yang tak bisa diabaikan. Peran ulama di jajaran Syuriyah dan Mustasyar sebagai pembimbing, pengarahan, dan pendidik dalam sistem berjam’iyah dan berjama’ah an-nahdliyyah harus dihargai dan dijadikan rujukan dalam menentukan arah perjuangan NU.Dalam menghadapi masa depan, NU perlu meneladani akhlaqul karimah dan keikhlasan para pendahulu dalam mempertahankan keagungan Islam. Dengan menghormati sanad dan karakter Islam yang mumpuni, NU akan tetap menjadi kekuatan agung dalam memajukan Islam dan melayani masyarakat. Semoga NU terus bergerak maju dalam meneruskan perjuangan dan dakwah agama yang mulia. Wassalam.




