Gresik – Sebanyak lima peserta yang terdiri dari pengelola dan pemandu wisata tampak antusias mengikuti pelatihan di kawasan Wisata Alam Edukasi Mangrove Cisiu, Desa Pangkah Kulon, Ujungpangkah, Gresik. Pelatihan ini, yang dimulai pada 27 Oktober 2024, merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan para pengelola wisata mangrove agar lebih siap dalam menghadirkan pengelolaan wisata yang berkelanjutan dan berwawasan edukasi lingkungan.

Program ini mendapat dukungan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek tahun anggaran 2024. Dengan adanya dukungan ini, pengelolaan kawasan wisata Mangrove Edupark Pulau Cisiu diharapkan bisa menjadi model wisata berbasis edukasi yang melibatkan masyarakat lokal.

Potensi dan Manfaat Edukasi Mangrove

Prof. Dr. Ir. Pudji Purwanti, M.P selaku pemateri utama dalam pelatihan menekankan pentingnya para pengelola untuk memahami potensi ekosistem mangrove baik dari aspek ekologi maupun ekonomi. “Ekosistem mangrove memiliki daya tarik alam yang tinggi dan dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama terkait pelestarian lingkungan,” ujarnya kepada media pada Rabu (30/10/2024).

Pudji menyebutkan bahwa mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung alam dari abrasi dan badai, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar. Dengan mengedukasi pengunjung tentang manfaat dan keindahan mangrove, ekosistem ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta mendukung ekonomi masyarakat lokal. Hutan mangrove ini, selain sebagai benteng alam, juga menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna unik yang menambah nilai estetikanya.

Materi Pelatihan dan Simulasi Pemanduan

Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan berbagai materi mengenai pengelolaan ekosistem mangrove, cara menyusun paket wisata edukasi yang menarik, serta keterampilan dalam memandu wisata. Mochamad Arif Zainul Fuad, S.Kel., M.Sc., dibantu oleh Prof. Dr. Ir. Pudji Purwanti, M.P., dan Ledhyane Ika Harlyan, S.Pi., M.Sc., Ph.D., dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, serta empat mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan, memberikan penjelasan mendalam mengenai pengelolaan kawasan mangrove.

Prof. Pudji Purwanti menyampaikan bahwa pemahaman menyeluruh terhadap ekosistem mangrove penting bagi para pemandu wisata. “Dengan paket wisata edukasi, kami ingin agar pemandu bisa menyampaikan informasi yang tepat dan menarik bagi pengunjung, sehingga mereka teredukasi mengenai pentingnya pelestarian lingkungan,” jelasnya.

Selain teori, peserta pelatihan juga diajak untuk mengikuti simulasi pemanduan. Mereka berperan langsung sebagai pemandu wisata, berinteraksi dengan pengunjung, dan menyampaikan informasi terkait ekosistem mangrove dengan cara yang mudah dipahami. Simulasi ini dilakukan di Pantai Leweyan, sebuah kawasan mangrove di muara Sungai Bengawan Solo, yang ditempuh dengan perjalanan perahu sekitar satu jam.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa pendamping, seperti Andira Rahmawati, Putri Kinasih, M Chaidir, Danica Rike Daniswara, dan lainnya, ikut terlibat dalam simulasi perjalanan. Mereka berbagi pengalaman dengan peserta pelatihan tentang pentingnya keanekaragaman hayati mangrove serta memberikan wawasan tentang bagaimana merancang informasi yang menarik bagi wisatawan.

Mengatasi Tantangan Pengelolaan Kawasan Mangrove

Kawasan Mangrove Edupark Pulau Cisiu, meski memiliki potensi besar, juga menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan. Masalah abrasi, aksesibilitas, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan menjadi beberapa hambatan yang perlu diatasi. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu pengelola dalam menghadirkan paket wisata berbasis edukasi yang mampu menarik wisatawan dan mengatasi kendala yang ada.

Ledhyane Ika Harlyan menjelaskan bahwa dengan pendekatan edukasi yang baik, pengunjung dapat memahami dan menghargai pentingnya pelestarian lingkungan. “Tantangan utama dalam pengembangan wisata adalah bagaimana menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengurangi daya tarik wisatawan. Edukasi menjadi solusi penting agar wisatawan ikut berpartisipasi dalam menjaga kawasan ini,” ungkapnya.

Dukungan dari DRTPM Kemendikbudristek untuk Program PKM

Program Kemitraan Masyarakat ini didanai oleh DRTPM Kemendikbudristek sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam kolaborasi antara akademisi dan masyarakat untuk inovasi pariwisata yang berkelanjutan. Harapannya, program ini dapat menjadi model yang bisa diterapkan di berbagai daerah lainnya, terutama yang memiliki ekosistem mangrove.

Dengan adanya pelatihan ini, Mangrove Edupark Pulau Cisiu diharapkan bisa menjadi contoh sukses ekowisata yang mendidik. Selain memberikan pengalaman berharga bagi pengunjung, kawasan ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Para peserta pelatihan yang telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan baru diharapkan mampu mengelola kawasan ini dengan lebih baik serta menciptakan paket wisata yang edukatif.

Harapan bagi Wisata Mangrove Berkelanjutan

Para peserta dan tim pengabdian berharap agar Mangrove Edupark Pulau Cisiu dapat berkembang menjadi destinasi ekowisata yang memberikan manfaat berkelanjutan, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Dengan keterampilan yang diperoleh, pemandu wisata diharapkan mampu menyampaikan pesan edukatif mengenai ekosistem mangrove, sehingga pengunjung dapat memahami pentingnya pelestarian lingkungan.

Aulia Intan Rahmanissa, salah satu mahasiswa peserta program, menyatakan harapannya agar para pemandu dapat terus mengembangkan kreativitas dalam menyusun paket wisata yang menarik. “Pengalaman ini membuka wawasan kami mengenai pentingnya edukasi lingkungan dalam pariwisata. Semoga para pemandu dapat menghadirkan wisata mangrove yang menarik sekaligus mendidik,” ujarnya.

Program pelatihan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengelola ekowisata berkelanjutan. Di masa depan, Mangrove Edupark Pulau Cisiu tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana edukasi yang memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version