Samarinda — Forum Pelatih dan Atlet Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan komitmen penuh untuk bersinergi dengan Gubernur Kaltim dalam mengakselerasi prestasi olahraga daerah. Ketua forum, Romiansyah, menilai target tiga besar PON yang dicanangkan Gubernur merupakan tantangan realistis asalkan KONI Kaltim dipimpin sosok kredibel, modern, dan akuntabel. “Forum Pelatih dan Atlet Kaltim menyatakan dukungannya serta kepatuhan terhadap pilihan Gubernur Kaltim,” ujar Romiansyah, menekankan bahwa pihaknya siap menjaga sinkronisasi program pembinaan dari akar rumput hingga level provinsi.
PON, Tolok Ukur Prestasi: Kaltim Butuh Lompatan Baru
Sejak 1948, PON menjadi barometer olahraga prestasi Indonesia. Kaltim mulai mencatatkan partisipasi sejak 1951, dan pernah menembus papan atas, termasuk saat menjadi tuan rumah PON 2008. Namun beberapa edisi terakhir memperlihatkan dominasi provinsi berpenduduk besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, sementara daerah dengan spesialisasi cabang olahraga (cabor) tertentu seperti Jawa Tengah dan Bali tetap diperhitungkan. Dalam lanskap persaingan yang kian ketat—termasuk skema multi-tuan rumah—Kaltim dituntut bekerja cerdas, cermat, dan efisien untuk kembali ke jalur elite.
Empat Figur Potensial Pimpin KONI Kaltim
Forum mengajukan empat nama yang dinilai memenuhi kriteria memimpin KONI Kaltim ke depan. Mereka adalah para ketua pengprov cabor yang berdomisili di Samarinda—memudahkan koordinasi dengan pemprov dan pemangku kepentingan terkait—serta memiliki jejaring kebijakan dan kapasitas manajerial.
- Nidya Listiyono, SE., ME. — Ketua Pengprov Perbasasi (baseball–softball) Kaltim
- Sutomo Jabir — Ketua Pengprov Perpani (panahan) Kaltim
- Jawad Sirajuddin — Ketua Pengprov PBFI (binaraga & fitness) Kaltim
- Rusman Ya’qub — Ketua Umum Pengprov PBI (boling) Kaltim
Menurut Romiansyah, keempat figur dikenal concern terhadap pemenuhan fasilitas, penguatan ekosistem pembinaan, dan peningkatan prestasi cabor masing-masing. “Mereka terbukti mampu mencari solusi yang kreatif dan tetap patuh pada regulasi. Itu modal penting untuk memimpin orkestrasi lintas cabor,” ucapnya.
Kriteria Kepemimpinan: Efektif, Efisien, Modern, Transparan
Forum menekankan prinsip “the right man on the right place.” Kriteria yang diharapkan: visi–misi yang selaras dengan target Gubernur; manajemen berbasis kompetensi; keberanian mengambil keputusan berbasis data; serta tata kelola anggaran yang transparan dan mudah diaudit. “Kita perlu pemimpin yang tidak hanya fasih berstrategi, tetapi juga konsisten dalam implementasi tanpa pencitraan berlebihan,” tegas Romiansyah. Dengan demikian, hasil (medali) dipandang sebagai konsekuensi logis dari proses yang benar dan terukur.
Peta Jalan Pembinaan: Data, Sport Science, dan Periodisasi
Forum menggarisbawahi kebutuhan peta jalan (roadmap) pembinaan yang eksplisit: pemetaan talenta berbasis data; penerapan sport science (nutrisi, fisioterapi, psikologi olahraga, performance analysis); serta periodisasi latihan yang menyiapkan puncak performa pada fase kualifikasi dan puncak PON. “Setiap cabor prioritas harus punya key results yang terukur per triwulan—mulai dari personal best, peringkat nasional, hingga medal projection,” papar Romiansyah. Ia menilai, dashboard kinerja yang diperbarui rutin akan menekan deviasi program sekaligus memudahkan pengambilan keputusan.
Kalender Kompetisi Berjenjang dan Jam Terbang
Keberhasilan pembinaan bertumpu pada jam terbang. Forum mendorong penguatan kalender kompetisi berjenjang dari kabupaten/kota hingga provinsi, diselingi try-out antarprovinsi dan keikutsertaan di kejuaraan nasional. “Tanpa kompetisi yang padat dan berlevel, sulit menguji kesiapan teknis, mental, dan taktik. Jam terbang adalah sekolah terbaik bagi atlet,” kata Romiansyah. Selain itu, pembaruan lisensi dan workshop pelatih secara periodik diperlukan agar metodologi latihan tetap mutakhir.
Skema Pembiayaan Berlapis dan Akuntabel
Untuk menopang program, Forum mengusulkan skema pembiayaan berlapis: APBD sebagai fondasi, kemitraan BUMD/BUMN/CSR, dan sponsorship berbasis kinerja. Setiap rupiah harus berdampak pada atlet, pelatih, dan kualitas kompetisi. “Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan strategi membangun kepercayaan sponsor dan publik,” ujar Romiansyah. Ia menilai, pelaporan berkala—termasuk realisasi anggaran dan output program—akan memperkuat legitimasi KONI di mata pemangku kepentingan.
Aktivasi Venue: Sport Tourism dan Legacy
Gubernur Kaltim mendorong aktivasi venue agar rutin menggelar event berskala nasional hingga internasional. Forum menilai strategi ini multiplier effect: menaikkan jam tanding, menumbuhkan ekonomi lokal melalui sport tourism, serta menjaga legacy venue. “Venue yang hidup adalah laboratorium prestasi—atlet, pelatih, dan ofisial terbiasa dengan standar pertandingan, sementara publik menikmati tontonan yang berkualitas,” tutur Romiansyah. Aktivasi yang konsisten juga membuka peluang branding Kaltim sebagai hub event olahraga kawasan.
Menatap 2027: BK PON dan Sukan Borneo sebagai Momentum
Menjelang 2027, Kaltim diproyeksikan menjadi tuan rumah Babak Kualifikasi (BK) PON dan Sukan Borneo. Forum melihat dua ajang ini sebagai momentum untuk stress test program pembinaan sekaligus mengukur kesiapan organisasi. “BK PON dan Sukan Borneo bisa menjadi tolok ukur antara. Kita evaluasi gap, perbaiki weak link, dan atur ulang target cabor prioritas,” jelas Romiansyah. Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan akan menunjukkan kapasitas manajerial KONI dan pemda dalam menyiapkan layanan pendukung—dari medical service, transportasi, hospitality, hingga event operation.
Sinergi Lintas Pemangku Kepentingan
Forum menegaskan pentingnya kolaborasi: KONI, Dispora, pengprov cabor, pemkab/pemkot, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas. “Tidak ada medali yang lahir dari kerja soliter. Kita butuh jejaring yang solid, tepat sasaran dan tepat manfaat,” ucap Romiansyah. Ia mengajak sekolah, klub, dan akademi untuk memperkuat talent pipeline sejak usia dini melalui festival, liga pelajar, dan kompetisi antar-SMAN/SMK, disertai insentif yang mendorong partisipasi berkelanjutan.




