Sidoarjo – Di tengah gempuran harga bahan pokok yang melambung tinggi, para petani di Kabupaten Sidoarjo masih harus dihadapkan dengan kenyataan pahit lain. Pupuk, yang menjadi salah satu kebutuhan pokok dalam bercocok tanam, kini menjadi langka dan mahal. Hal ini tentu saja membuat para petani menjerit, karena berimbas pada hasil panen dan keuntungan mereka.
Misnah, petani berusia 63 tahun dari Desa Tanggungan Grinting, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, telah bertani padi selama bertahun-tahun. Sejak 24 tahun lalu, ia juga mulai menanam berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya lebih memilih menanam sayuran karena panennya lebih cepat. Bayam bisa dipanen dalam 24 hari, dan sawi 30 hari,” jelas Misnah saat ditemui di lahan pertaniannya, Rabu (24/4/2024).
Meskipun panennya cepat, Misnah mengaku sering mengalami kesulitan dalam menjual hasil panennya. Harga sayuran yang tidak stabil dan cenderung murah, membuatnya hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit.
“Harga sayuran sering turun. Kalau murah, bayam dan kangkung hanya dihargai Rp4.000 per ikat besar. Itu pun belum cukup untuk menutupi ongkos panen,” keluh Misnah.
Selain harga yang murah, Misnah juga mengeluhkan kelangkaan dan mahalnya pupuk bersubsidi. Pupuk subsidi yang seharusnya membantu para petani, kini sulit didapatkan dan harganya jauh lebih mahal.
“Pupuk subsidi hanya untuk padi, tapi itupun langkah. Untuk pupuk sayur, kami harus beli sendiri dengan harga yang mahal. Hal ini tentu saja membuat keuntungan kami semakin tipis,” ungkap Misnah.
Misnah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para petani, terutama dalam hal pupuk.
“Saya mohon kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib para petani. Tolong permudah akses pupuk bersubsidi dan turunkan harganya. Kami ingin bisa bertani dengan tenang dan mendapatkan keuntungan yang layak,” pinta Misnah.
Keluhan Petani Diperkuat Tengkulak
Sutikno, seorang tengkulak sayuran yang biasa membeli hasil panen dari para petani di Sidoarjo, turut prihatin dengan kondisi para petani saat ini.
“Saya lihat para petani mendapatkan keuntungan yang sangat sedikit dari hasil panen mereka. Harga sayuran yang murah dan mahalnya pupuk menjadi faktor utama,” jelas Sutikno.
Sutikno berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkrit untuk membantu para petani dan masyarakat secara umum.
“Saya harap pemerintah bisa turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Harga bahan pokok harus diturunkan dan akses pupuk bagi petani harus dipermudah. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Sutikno.
Keluhan Misnah dan Sutikno hanyalah sebagian kecil dari suara para petani di Sidoarjo yang menjerit akibat pupuk mahal dan langkah. Pemerintah perlu segera mengambil langkah nyata untuk membantu para petani dan memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
