Sangatta – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur kembali mengadakan kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan remaja melalui Orientasi Remaja Kelompok PIK-R dan Forum Duta Genre tentang Life Skill bagi fasilitator tahun 2024. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Selasa (10/12) dan Rabu (11/12), bertempat di Aula Teras Belad, Sangatta Utara, Kutai Timur.
Menghadirkan peserta dari berbagai kecamatan, acara ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman remaja terhadap pentingnya penguasaan life skill atau kecakapan hidup sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan modern. Selain itu, orientasi ini juga menitikberatkan pada pencegahan kekerasan seksual yang kerap menjadi isu krusial di kalangan remaja.
Pembukaan: Arahan dan Harapan
Kepala Dinas DPPKB Kutai Timur, Achmad Junaidi B., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan karakter remaja di Kabupaten Kutai Timur. “Penguasaan life skill adalah kunci untuk memberdayakan remaja agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan, mulai dari tekanan teman sebaya, risiko penyalahgunaan narkoba, hingga ancaman kekerasan seksual,” jelasnya.
Achmad Junaidi juga menegaskan bahwa peningkatan kualitas remaja adalah bagian dari visi besar pemerintah untuk membentuk generasi yang lebih mandiri, sehat, dan berdaya saing. “Kami berharap melalui orientasi ini, para fasilitator dapat membawa perubahan nyata di komunitas masing-masing, sehingga remaja memiliki ketahanan diri yang kuat untuk menjawab tuntutan zaman,” tambahnya.
Laporan Penyelenggara: Fokus pada Peningkatan Kompetensi
Kegiatan ini dimulai dengan laporan dari Ketua Penyelenggara, Ani Saidah, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutai Timur. Dalam laporannya, Ani menyampaikan latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini.
Menurutnya, life skill merupakan kemampuan adaptif dan perilaku positif yang memungkinkan remaja menghadapi tantangan hidup dengan cara yang sehat dan konstruktif. Konsep ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya angka kekerasan seksual, penyalahgunaan narkoba, dan pernikahan dini di kalangan remaja Indonesia.
“Melalui pendekatan peer to peer, kami ingin memberdayakan pendidik dan konselor sebaya di PIK-R agar mereka dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ungkap Ani. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari modul “Tentang Kita” yang dikembangkan pada 2021 oleh Genre Indonesia bersama mitra nasional.
Materi dan Metode Kegiatan
Dalam dua hari penyelenggaraan, peserta mendapatkan berbagai materi yang mencakup:
- Konsep Dasar Life Skill
Sepuluh jenis kecakapan hidup menurut WHO, UNICEF, dan UNESCO, seperti mengenal diri sendiri, berpikir kritis, dan pengambilan keputusan, menjadi fokus utama. - Pencegahan Kekerasan Seksual
Peserta dilatih untuk mengenali, mencegah, dan menangani kasus kekerasan seksual di komunitas mereka. - Pengembangan Keterampilan Fasilitasi
Peserta belajar bagaimana menjadi fasilitator efektif yang mampu menyampaikan edukasi kepada rekan sebayanya.
Kegiatan ini menggunakan berbagai metode, termasuk paparan materi, diskusi interaktif, permainan edukatif, dan praktik penggunaan modul.
Partisipasi Peserta
Peserta kegiatan terdiri dari 50 orang yang berasal dari empat kecamatan, yaitu Sangatta Utara (24 orang), Bengalon (3 orang), Teluk Pandan (3 orang), dan Kaliorang (3 orang). Selain itu, terdapat perwakilan dari GenRe Kutai Timur (4 orang) dan staf DPPKB (13 orang).
“Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan komitmen bersama untuk mendukung program ini. Kami ingin memastikan bahwa setiap kecamatan memiliki fasilitator yang kompeten untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada remaja,” ujar Ani Saidah.
Pentingnya Penguasaan Life Skill
Dalam sambutannya, Achmad Junaidi menyoroti pentingnya penguasaan life skill bagi remaja. Ia mengutip data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021 yang menunjukkan tingginya angka kekerasan seksual di kalangan remaja usia 13–17 tahun. “Empat dari 100 remaja laki-laki dan delapan dari 100 remaja perempuan pernah menjadi korban kekerasan seksual. Ini angka yang mengkhawatirkan,” katanya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa life skill tidak hanya membantu remaja melindungi diri dari risiko kesehatan dan sosial, tetapi juga memperkuat karakter mereka sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
“Remaja adalah agen perubahan. Dengan penguasaan life skill, mereka dapat membuat keputusan yang lebih bijak, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk komunitas mereka,” tegasnya.
Hasil yang Diharapkan
Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan fasilitator yang tidak hanya memahami substansi life skill, tetapi juga mampu mengajarkannya kepada remaja lainnya. Beberapa hasil yang diharapkan meliputi:
Tersedianya metode dan media edukasi yang efektif untuk pencegahan kekerasan seksual. Terciptanya jaringan fasilitator di tingkat kabupaten dan kecamatan yang mampu melaksanakan edukasi dan konseling secara berkesinambungan.
Peran Duta GenRe
Forum Duta Genre juga dilibatkan secara aktif dalam kegiatan ini. Sebagai role model bagi remaja, para Duta Genre diharapkan menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan informasi dan nilai-nilai positif terkait life skill.
“Duta Genre memiliki peran strategis dalam menjangkau remaja yang mungkin belum tersentuh program ini. Mereka adalah figur inspiratif yang mampu memengaruhi teman sebayanya untuk mengadopsi pola hidup sehat,” jelas Ani Saidah.
Komitmen Bersama
Di penghujung acara, peserta diminta untuk menyusun rencana tindak lanjut yang akan diimplementasikan di wilayah masing-masing. Achmad Junaidi juga mengingatkan pentingnya pencatatan dan pelaporan sebagai bagian dari evaluasi program.
“Saya berharap Saudara-saudara yang terpilih sebagai fasilitator dapat menjalankan peran ini dengan penuh tanggung jawab. Ada banyak remaja di luar sana yang membutuhkan bimbingan dan edukasi dari Anda,” tutupnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan remaja di Kutai Timur semakin tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Program ini juga menjadi bukti nyata komitmen DPPKB Kutai Timur dalam membangun generasi muda yang berkualitas, sehat, dan berkarakter.
