TENGGARONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor menjelang puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember 2026.
Upaya tersebut mencakup pemetaan kawasan rawan bencana, kajian sistem drainase, serta rencana pembersihan saluran air bersama pemerintah wilayah dan masyarakat.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan pemetaan dilakukan untuk menentukan kebutuhan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing kawasan.
BPBD juga mengkaji jalur aliran air di sejumlah titik yang selama ini berpotensi mengalami genangan.
“Kami juga menyiapkan langkah mitigasi terhadap bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu (21/10/2026).
Salah satu langkah yang disiapkan ialah mengimbau pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, hingga pengurus RT untuk membersihkan gorong-gorong dan saluran drainase di lingkungan masing-masing.
Langkah ini diharapkan menjaga kelancaran aliran air ketika curah hujan meningkat.
Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan perubahan kondisi lingkungan dan melaporkan potensi ancaman bencana kepada pihak terkait agar dapat ditindaklanjuti.
Dalam pemetaan wilayah rawan genangan, BPBD Kukar memberi perhatian terhadap kawasan Danau Aji yang memiliki kondisi cekungan.
Kondisi tersebut membuat kawasan ini perlu diantisipasi ketika terjadi peningkatan volume air.
Sementara itu, di kawasan Jalan Danau Semayang, saluran drainase telah tersedia dan terhubung dengan kawasan danau.
BPBD akan memastikan sistem aliran tersebut berfungsi dengan baik sehingga air tidak meluap ke permukiman di sekitarnya.
Perhatian juga diberikan terhadap kawasan Timbau, terutama di sekitar SMA Negeri 2 Tenggarong yang kerap mengalami genangan.
BPBD masih mengkaji arah aliran air dan pilihan penanganan yang memungkinkan, termasuk penyedotan maupun pengaliran air menuju saluran lain.
“Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengalirkan air menuju kanal di depan rumah sakit,” jelasnya.
Aspianur menegaskan, penanganan genangan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kawasan lain.
Karena itu, pilihan jalur pembuangan air harus dikaji terlebih dahulu agar upaya mengatasi genangan di satu titik tidak menimbulkan masalah baru di wilayah berbeda.
Pemetaan dan kajian teknis tersebut masih berlangsung untuk menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi setiap lokasi.
Hasil kajian akan menjadi bahan pertimbangan dalam menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim penghujan.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk mendukung upaya mitigasi.
Pembersihan saluran air secara berkala dan pelaporan dini terhadap potensi longsor maupun ancaman bencana lainnya menjadi bagian dari kesiapsiagaan di tingkat lingkungan.
“Tujuannya supaya aliran air tetap lancar,” tutupnya. (Adv/Diskominfo/Kukar).
