TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244 sebagai pengingat terhadap tanggung jawab setiap generasi dalam menjaga sekaligus melanjutkan pembangunan kota.
Menurut Aulia, peringatan hari jadi bukan sekadar menandai bertambahnya usia Tenggarong. Lebih dari itu, momentum tersebut merupakan refleksi perjalanan panjang sebuah peradaban yang diwariskan para pendahulu.
“Ketika hari ini kita memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong yang ke-244, sesungguhnya yang kita lakukan bukan hanya memperingati bertambah usianya, melainkan kita juga memperingati perjalanan sebuah peradaban,” kata Aulia.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Tenggarong memiliki hubungan erat dengan keputusan Aji Imbut atau Sultan Aji Muhammad Muslihuddin yang memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada 28 September 1782.
Catatan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga menyebutkan bahwa Tepian Pandan kemudian dikenal sebagai Tangga Arung, yang berarti Rumah Raja, dan dalam perkembangannya menjadi Tenggarong. Tanggal 28 September 1782 kemudian diperingati sebagai hari berdirinya Kota Tenggarong.
Aulia mengatakan keberanian Aji Imbut dalam membuka babak baru pemerintahan pada masa itu harus menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk mengambil tanggung jawab terhadap masa depan daerah.
“Aji Imbut memiliki keberanian untuk membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Tepian Pandan. Para sultan setelahnya melanjutkan pembangunan dan memperkuat peradaban Tenggarong. Kini giliran kita,” ujarnya.
Menurut dia, generasi saat ini memiliki kewajiban untuk meninggalkan Tenggarong dalam kondisi yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Karena itu, pembangunan kota tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar sejarah dan nilai budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
“Kita tidak sedang memilih antara sejarah dan modernitas. Kita sedang membangun modernitas yang berakar pada sejarah,” tegas Aulia.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar bersama-sama menjaga marwah Tenggarong dengan tidak melakukan tindakan yang dapat mencederai nilai budaya maupun kehidupan sosial masyarakat.
“Jangan kita nodai, jangan kita kotori Tenggarong ini dengan perilaku-perilaku yang tidak benar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Aulia turut menyinggung makna Tenggarong sebagai Kota Raja. Menurutnya, makna tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan sejarah kesultanan, tetapi juga dapat diterjemahkan melalui cara pemerintah memberikan pelayanan dan memperlakukan masyarakat.
Ia mengatakan masyarakat secara esensial harus ditempatkan sebagai pihak yang dimuliakan dan memperoleh pelayanan terbaik.
Semangat tersebut dinilainya sejalan dengan tema Erau Adat Kutai 2026, “Raja Menjamu Rakyatnya”, yang menempatkan hubungan antara kesultanan, pemerintah, dan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga tradisi serta kebersamaan.
Aulia juga menyampaikan apresiasi terhadap peran Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam menjaga nilai adat dan budaya sekaligus mendampingi perjalanan pembangunan daerah.
Nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, menurutnya, harus terus menjadi sumber inspirasi dalam menentukan arah pembangunan Kukar, khususnya Tenggarong.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, izinkan kami mengucapkan selamat Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244 tahun 2026. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan keberkahan kepada kita dalam melanjutkan pengabdian bagi masyarakat dan daerah yang kita cintai,” tutup Aulia. (ADV/Diskominfo/Kukar).






