Kukar – “Erau tahun ini berbeda.” Perhelatan adat kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara memasuki babak baru setelah Erau Adat Kutai 2026 masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Menjelang pelaksanaan pada 20 hingga 28 September 2026, pemerintah daerah bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura terus mematangkan persiapan, termasuk rangkaian sakral yang secara fisik telah mencapai hampir 90 persen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, Heriansyah, mengatakan masuknya Erau dalam Karisma Event Nusantara membuat penyelenggaraan tahun ini memiliki standar dan target yang perlu diperhatikan. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kelancaran acara, tetapi juga pengelolaan lingkungan, mitigasi risiko, dampak ekonomi terhadap UMKM, hingga penyediaan informasi yang dapat diakses pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara.
“Erau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Erau tahun ini sudah masuk Karisma Event Nusantara, sehingga standar pelaksanaannya harus diperhatikan. Ada standar dan target tertentu yang diminta oleh kementerian dan harus kita penuhi,” kata Heriansyah.
Salah satu perhatian dalam persiapan adalah persoalan kebersihan selama berlangsungnya rangkaian acara. Dengan berbagai kegiatan yang akan menghadirkan masyarakat dan pengunjung, pengelolaan sampah harus dipersiapkan sehingga aktivitas festival tidak meninggalkan persoalan lingkungan.
“Misalnya dalam proses pelaksanaan, bagaimana kegiatan ini tidak menimbulkan sampah di mana-mana. Penanganan sampah harus dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.
Selain kebersihan, panitia juga dituntut menyiapkan mitigasi risiko apabila terjadi kondisi darurat atau bencana selama kegiatan. Dampak ekonomi penyelenggaraan Erau terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah juga menjadi bagian yang harus diperhatikan dan dapat diukur.
“Kemudian, apabila dalam proses pelaksanaan terjadi bencana, harus dibuat mitigasi risiko. Yang ketiga, bagaimana efek dari pelaksanaan Erau ini juga berdampak pada UMKM kita. Itu harus bisa diukur,” jelas Heriansyah.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah penyediaan informasi dalam lebih dari satu bahasa. Menurut Heriansyah, penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris diperlukan untuk memudahkan masyarakat maupun pengunjung dari luar negeri memahami informasi mengenai rangkaian Erau.
“Standar-standar seperti ini harus diperhatikan. Dalam proses pelaksanaan juga jangan hanya menggunakan satu bahasa. Harus ada bahasa lain yang bisa diakses atau diterjemahkan oleh pihak luar, terutama Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” katanya.
Sementara untuk rangkaian sakral, Heriansyah menyebut kesiapan fisiknya sudah mendekati tahap akhir. Sejumlah kegiatan pra-Erau juga telah dilaksanakan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Aji Muhammad Arifin.
“Kalau persiapan secara fisik untuk kegiatan sakral sudah hampir 90 persen. Bahkan pra-Erau, Ayahanda Sultan sudah melakukan beberapa rangkaian acara,” ungkapnya.
“Salah satunya ziarah ke makam para raja dan Sultan yang ada di kompleks Museum Mulawarman, kemudian ke Desa Kutai Lama. Hari ini juga tadi dilaksanakan prosesi Pesawai,” lanjut Heriansyah.
Menurut Heriansyah, Sultan akan mengikuti seluruh kegiatan sakral dalam rangkaian Erau. Tradisi Kesultanan juga tetap dipertahankan, termasuk ketentuan adat yang membuat Sultan tidak menginjakkan kaki langsung ke tanah selama periode tertentu dalam pelaksanaan Erau.
“Semua kegiatan sakral diikuti oleh Sultan,” tegas Heriansyah.
Sultan Aji Muhammad Arifin menjelaskan ketentuan tersebut berlaku sejak Tiang Ayu didirikan hingga nantinya kembali direbahkan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu tetap dijalankan sebagai bagian dari adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Kalau menginjakkan kaki ke tanah itu, dimulai dari saat menirikan Tiang Ayu di istana atau Kedaton Museum sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Setelah itu baru kita bisa menginjak tanah,” jelas Sultan Aji Muhammad Arifin.
“Selama masa tersebut, kalau kita berada di rumah, ya di rumah. Tetapi kalau ke istana, kita menggunakan kain kuning,” sambungnya.
Bagi Sultan, mempertahankan ketentuan tersebut merupakan bagian dari menjaga warisan leluhur. Adat yang sudah berlangsung sejak masa terdahulu tetap diteruskan kepada generasi berikutnya agar tidak terputus oleh perkembangan zaman.
“Namanya adat, kita tidak bisa mengubahnya dari zaman dahulu. Itu merupakan adat dari nenek moyang kita. Jadi sampai sekarang masih tetap dijalankan dan diteruskan kepada anak cucu kita,” ujarnya.
“Itu yang penting,” tegas Sultan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga memimpin koordinasi untuk memastikan rangkaian persiapan berlangsung sesuai rencana. Erau dipandang bukan hanya sebagai agenda pemerintah maupun Kesultanan, melainkan sebagai perhelatan yang menjadi milik masyarakat Kutai Kartanegara dan menjadi ruang menjaga keberlanjutan adat, tradisi, serta budaya daerah.
Pemerintah daerah menyatakan rangkaian sakral maupun seremonial sejauh ini berjalan sesuai rencana yang telah disusun sejak awal tahun. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga terus dilakukan menjelang pembukaan kegiatan pada Minggu (20/9/2026).
Upaya menghadirkan Menteri Kebudayaan dalam penyelenggaraan Erau 2026 juga masih dilakukan. Pemerintah daerah menjadwalkan pertemuan melalui konferensi video untuk membahas kegiatan tersebut, sementara konfirmasi mengenai kehadiran perwakilan Kementerian Kebudayaan masih ditunggu.
Dengan waktu pelaksanaan yang semakin dekat, koordinasi lintas pihak menjadi bagian penting untuk memastikan Erau berlangsung lancar. Masuknya kegiatan ini dalam Karisma Event Nusantara sekaligus membawa tuntutan agar pelestarian tradisi berjalan beriringan dengan standar penyelenggaraan event, mulai dari kebersihan, mitigasi risiko, keterlibatan UMKM hingga akses informasi bagi pengunjung.
Erau Adat Kutai 2026 pada 20-28 September diharapkan menjadi ruang mempertahankan warisan Kesultanan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kutai kepada masyarakat yang lebih luas. Di tengah tuntutan penyelenggaraan yang semakin tinggi, rangkaian adat dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur tetap menjadi jantung utama perhelatan tersebut.
