Kukar – “Jangan sekadar tambal di permukaan.” Kerusakan kembali muncul di ruas jalan nasional Samarinda–Tenggarong, tepatnya di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jalan yang belum lama mendapat penanganan itu kini kembali mengalami pergeseran dan penurunan badan jalan, memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna sekaligus efektivitas proyek yang disebut menelan anggaran miliaran rupiah.

Kerusakan terjadi pada jalur strategis yang setiap hari dilalui kendaraan dari dan menuju Kutai Kartanegara serta wilayah pedalaman Kalimantan Timur. Kondisinya bukan hanya berupa aspal berlubang atau lapisan permukaan yang terkelupas, melainkan badan jalan yang bergeser dan turun. Situasi tersebut dinilai berbahaya terutama bagi pengendara sepeda motor serta kendaraan angkutan bermuatan berat yang harus melintasi ruas tersebut.

Warga setempat menyebut ruas jalan di kawasan Jembayan telah beberapa kali diperbaiki. Namun, kerusakan kembali muncul setelah penanganan dilakukan. Kondisi tersebut menimbulkan sorotan terhadap kualitas konstruksi, metode penanganan, hingga pengawasan proyek, terlebih pekerjaan perbaikan disebut menggunakan anggaran dalam jumlah besar.

Anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara, HM Jamhari, ikut meninjau langsung kondisi jalan tersebut. Sebagai wakil rakyat sekaligus warga Jembayan, ia mengaku prihatin melihat badan jalan kembali mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat setelah dilakukan perbaikan.

Kerusakan kembali muncul di ruas jalan nasional Samarinda–Tenggarong, tepatnya di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Saya paham ini bukan kewenangan daerah, Tetapi saya sebagai warga Jembayan sekaligus anggota DPRD Kutai Kartanegara, tentu harus menyuarakan dan mendorong pemerintah pusat agar melakukan perbaikan secara serius. Jangan hanya memperbaiki bagian atasnya, karena persoalan utamanya adalah badan jalan yang terus bergeser,” tegas Jamhari.

Menurut Jamhari, penanganan terhadap jalan tersebut tidak boleh lagi hanya berfokus pada lapisan permukaan. Pergeseran dan penurunan badan jalan menunjukkan kemungkinan adanya persoalan yang lebih mendasar pada struktur maupun kondisi tanah di bawah konstruksi. Karena itu, pemerintah pusat dan instansi teknis terkait didorong melakukan kajian menyeluruh sebelum kembali mengerjakan perbaikan.

Ia menilai pola tambal sulam hanya akan menghasilkan penyelesaian sementara apabila sumber kerusakan tidak terlebih dahulu diidentifikasi dan ditangani. Perbaikan permanen dibutuhkan agar anggaran yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang dan tidak berulang kali digunakan untuk menangani persoalan di titik yang sama.

Keselamatan pengguna jalan juga menjadi perhatian utama. Jamhari menyebut dalam sepekan terakhir telah terjadi dua kecelakaan di sekitar lokasi kerusakan. Kondisi badan jalan yang turun dan bergeser dinilai dapat meningkatkan risiko, khususnya ketika pengendara melintas pada malam hari atau tidak mengetahui perubahan permukaan jalan tersebut.

“Kalau tidak segera ditangani, kita khawatir nanti ada korban jiwa. Ini yang tentu tidak kita inginkan,” ujarnya.

Jamhari menegaskan kerusakan di Desa Jembayan, khususnya kawasan Dusun Margasari, tidak dapat dianggap sebagai persoalan lokal semata. Ruas tersebut menjadi salah satu jalur utama distribusi yang menghubungkan Kutai Kartanegara dengan Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Jalan tersebut memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat sekaligus pergerakan logistik menuju kawasan hulu.

Apabila kerusakan berkembang menjadi longsor atau badan jalan mengalami penurunan lebih parah, arus distribusi barang berpotensi terganggu. Kendaraan angkutan dapat kesulitan melintas dan terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh. Kondisi itu dapat memperpanjang waktu perjalanan sekaligus meningkatkan biaya operasional dan distribusi.

Saat ini, kendaraan roda empat bermuatan berat disebut mulai menghadapi kesulitan ketika melewati titik kerusakan. Jika tidak segera dilakukan penanganan, dampaknya dikhawatirkan meluas dari persoalan keselamatan menjadi hambatan ekonomi bagi masyarakat di tiga wilayah yang bergantung pada jalur tersebut.

Jamhari juga menyayangkan kondisi jalan yang kembali rusak meskipun pekerjaan sebelumnya disebut menelan anggaran hingga miliaran rupiah. Terlebih, kerusakan kembali terlihat dalam kurun sekitar satu tahun setelah perbaikan. Menurutnya, kondisi itu semestinya menjadi bahan evaluasi terhadap seluruh tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi hingga pengawasan pekerjaan.

Ia mendorong pemerintah pusat bersama instansi teknis segera turun ke lapangan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penyebab pergeseran badan jalan. Penanganan berikutnya diharapkan tidak lagi bersifat sementara, melainkan memperbaiki struktur dari bagian dasar sehingga ruas jalan lebih kuat menghadapi beban kendaraan dan kondisi lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jembayan dan pengguna jalur Samarinda–Tenggarong, perbaikan permanen menjadi kebutuhan mendesak. Selain menyangkut keselamatan, kualitas jalan nasional tersebut menentukan kelancaran mobilitas dan distribusi menuju Kutai Kartanegara, Kutai Barat hingga Mahakam Ulu. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat memastikan anggaran infrastruktur menghasilkan jalan yang aman, kuat, dan tidak kembali rusak dalam waktu singkat.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version