Kukar – “Budaya adalah jembatan kebersamaan.” Semangat itu kembali menemukan ruangnya dalam Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 di Tenggarong. Bagi Anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara HM Jamhari, keberadaan tradisi daerah tidak hanya berkaitan dengan warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kebersamaan masyarakat di tengah perkembangan zaman.
HM Jamhari merupakan anggota DPRD Kutai Kartanegara periode 2024–2029 dari Partai Golongan Karya. Selain itu, H. Mohammad Jamhari merupakan legislator asal Daerah Pemilihan V dan anggota Fraksi Golkar.
Perhatian Jamhari terhadap pelestarian budaya sebelumnya juga terlihat saat menghadiri Interaksi Budaya Nusantara di Desa Jembayan Tengah, Kecamatan Loa Kulu, pada Kamis (2/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, ia menempatkan kebudayaan sebagai ruang yang mampu mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda sekaligus menjaga keharmonisan sosial.
“Interaksi Budaya Nusantara adalah sebuah bentuk kebersamaan yang harus kita pelihara,” ujar Jamhari yang juga anggota Komisi I DPRD Kukar tersebut.
Pandangan itu memiliki kaitan dengan semangat Erau Adat Kutai 2026 yang menghadirkan masyarakat dalam satu ruang budaya. Festival tahun ini berlangsung sejak Minggu (20/9/2026) hingga Minggu (27/9/2026), dengan sejumlah rangkaian kegiatan berlanjut hingga 28 September 2026. Pemerintah Kabupaten Kukar menetapkan pelaksanaan tersebut melalui rangkaian persiapan bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan organisasi perangkat daerah terkait.
HM. Jamhari juga mengajak kepada masyarakat khususnya generasi muda ia berpesan agar terus melestarikan nilai budaya yang dimiliki.
“Kami berharap kepada anak muda di Kukar agar berpegang teguh, menjaga nilai-nilai budaya,” terangnya.
Pelaksanaan Erau tahun ini juga mempunyai posisi lebih luas setelah masuk dalam Karisma Event Nusantara atau KEN 2026. Pemerintah daerah menyebut status tersebut membawa standar penyelenggaraan yang mencakup pengelolaan kebersihan, mitigasi risiko hingga upaya menghadirkan dampak ekonomi bagi UMKM lokal.
Data Disdikbud Kukar yang disampaikan dalam rapat final persiapan mencatat Festival Erau 2025 dikunjungi 20.145 orang. Untuk penyelenggaraan 2026, pemerintah daerah memasang target kunjungan sebanyak 40 ribu orang. Data tersebut menunjukkan Erau tidak hanya mempunyai dimensi adat, tetapi juga berpotensi memperkuat sektor pariwisata dan pergerakan ekonomi masyarakat.
“Target jumlah pengunjung di tahun ini (2026) 40.000 orang,” kata Kepala Disdikbud Kukar Heriansyah saat menyampaikan persiapan Erau.
Rangkaian Erau Minggu (27/9/2026) memasuki salah satu bagian penting melalui Mengulur Naga hingga Belimbur. Belimbur dikenal sebagai tradisi saling menyiramkan air dengan makna yang berkaitan dengan penyucian diri, rasa syukur serta penguatan kebersamaan masyarakat. Air Tuli yang diambil dari Kutai Lama menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual tersebut.
Prosesi adat pada rangkaian penutupan juga memperlihatkan bagaimana warisan Kesultanan Kutai tetap dipertahankan di tengah perubahan sosial dan pembangunan daerah. Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Rangga Titi hingga Belimbur bukan sekadar atraksi, melainkan bagian dari tata adat yang telah mendapat ruang perlindungan dalam kebijakan daerah.
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pelestarian Adat Istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menempatkan Erau sebagai salah satu upacara adat Kesultanan yang difasilitasi pemerintah daerah untuk pelestarian budaya dan pengembangan kepariwisataan. Regulasi tersebut juga menyebut Erau dapat melibatkan partisipasi seluruh masyarakat dan dilaksanakan setiap tahun.
Di dalam aturan tersebut, sejumlah prosesi seperti Titi Bende, Menjamu Benua, Merangin, Ngatur Dahar, Mendirikan Pinang Ayu, Beluluh, Bepelas, Ngulur Naga, Beumban, Begorok, Rangga Titi, Belimbur hingga Merebahkan Pinang Ayu tercantum sebagai bagian dari rangkaian Upacara Adat Erau.
Erau 2026 pun tidak hanya diisi ritual Kesultanan. Sejumlah kegiatan pendukung berupa pameran, bazar UMKM, pentas seni dan ekshibisi olahraga tradisional turut digelar di beberapa kawasan di Tenggarong. Pemerintah daerah menilai aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya agar penyelenggaraan budaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri sebelumnya juga menegaskan bahwa Erau tidak berhenti sebagai pesta adat tahunan atau tontonan kebudayaan. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai bagian dari warisan leluhur dan identitas peradaban Kutai yang perlu diwariskan antargenerasi. Nilai penghormatan kepada leluhur, kesetiaan terhadap adat, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam disebut sebagai bagian dari pesan yang terkandung dalam rangkaian Erau.
Bagi Jamhari, semangat menjaga kebudayaan juga perlu berjalan berdampingan dengan pengembangan potensi daerah. Dalam pernyataannya pada kegiatan budaya di Loa Kulu, ia menilai pelestarian tradisi yang dikelola secara berkelanjutan dapat membuka ruang bagi pariwisata, ekonomi kreatif dan kegiatan masyarakat.
Momentum Erau karena itu menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Kehadiran masyarakat, pelaku seni, pelaku UMKM, pemerintah dan Kesultanan dalam satu rangkaian kegiatan memperlihatkan bahwa budaya tetap memiliki ruang dalam kehidupan sosial Kutai Kartanegara.
Setelah rangkaian utama festival berakhir, sejumlah kegiatan dijadwalkan berlanjut pada 28 September 2026. Momentum itu sekaligus beririsan dengan peringatan hari jadi Kota Tenggarong, sehingga rangkaian kebudayaan dan sejarah daerah kembali bertemu dalam satu perayaan masyarakat. Sejumlah sumber penyelenggaraan 2026 mencatat peringatan tahun ini berkaitan dengan Hari Ulang Tahun ke-244 Kota Tenggarong.
Keberlanjutan Erau pada akhirnya menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas Kutai Kartanegara di tengah laju pembangunan. Tradisi yang tetap hidup memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal sejarah, memahami adat, sekaligus merawat nilai kebersamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.
(ADV/DRPD/Kukar).




