Sidoarjo – Malam di Lapangan Desa Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Sabtu (20/9/2025), berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga berbondong-bondong menyaksikan pagelaran Wayang Gagrak Porongan dengan lakon Lahirnya Anjilo Kencono, dibawakan oleh dalang Ki Didik Iswandi dari Candi Pari, Porong. Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, melainkan juga sarat pesan iman dan nilai budaya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Ng. Tirto Adi, hadir mewakili Bupati dan Wakil Bupati yang berhalangan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pertunjukan wayang ini merupakan salah satu bentuk nguri-nguri budaya lokal khas Sidoarjo.
“Pagelaran Wayang Gagrak Porongan di Sidoarjo ini adalah kegiatan pelestarian budaya khas Sidoarjo untuk memperkenalkan kesenian kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ini merupakan pagelaran ketujuh dari dua belas kali dalam setahun,” ujarnya.

Tirto juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Rangkah Kidul. “Terima kasih Pak Kades, luar biasa antusias masyarakat Rangkah Kidul. Ini bagian dari ikhtiar kita untuk nguri-nguri budaya asli milik kita, agar masyarakat tetap melestarikan nilai budaya lokal,” tambahnya.

Dalang Ki Didik Iswandi menuturkan, lakon Lahirnya Anjilo Kencono menyimbolkan turunnya iman dari dewa ke bumi untuk meredam angkara murka Rahwana Raja.
“Karena apa? Tandingannya Rahwana Raja itu satu, yaitu Anjilo Kencono atau Hanoman dan Ramawijaya. Kalau tidak ada tandingannya, dunia ini berbahaya karena tidak ada yang meredam angkara murka,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa simbol Hanoman mengajarkan manusia untuk menekuni iman dalam melawan sifat buruk dalam diri. “Untuk itu, saran saya mari kita menekuni iman, itu simbol dari Hanoman memerangi jati diri angkara murka di dalam jiwa kita,” pungkasnya.

Kepala Desa Rangkah Kidul, H. Warlheiyono, menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Sidoarjo atas terselenggaranya acara tersebut. “Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kembali seni budaya lokal kepada masyarakat agar terus dilestarikan dan menjadi jati diri bangsa melalui filosofi wayang,” ujarnya.

Sementara itu, Sutoro (62), warga setempat, mengaku senang dapat kembali menikmati pagelaran wayang kulit. “Wayang sudah lama menjadi kegemaran saya. Semoga generasi muda juga dapat mencintai budaya ini agar tidak sampai diakui negara lain,” tuturnya.

Pagelaran Wayang Gagrak Porongan di Desa Rangkah Kidul ini menjadi bukti nyata bahwa budaya tradisi masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, sekaligus sebagai media menanamkan nilai iman dan moral bagi generasi penerus.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version