Sidoarjo – Uang kerap diibaratkan seperti pisau bermata dua, mampu menghadirkan manfaat sekaligus menimbulkan persoalan jika tidak digunakan dengan benar. Pesan itulah yang mengemuka dalam Pengajian Rutin PKK se-Kecamatan Tulangan yang digelar di Balai Desa Kebaron, Kecamatan Tulangan, Rabu (22/7/2026). Kegiatan keagamaan yang dipandu Jamaah Al Jannatin tersebut mengangkat tema “Duwik” atau uang sebagai refleksi pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola harta.
Pengajian diikuti puluhan anggota PKK dari seluruh desa di Kecamatan Tulangan. Sejak awal hingga penutupan acara, suasana berlangsung khusyuk dan penuh keakraban. Tema yang diangkat tidak hanya membahas persoalan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menekankan nilai-nilai spiritual mengenai cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan rezeki secara bertanggung jawab. Melalui kegiatan rutin ini, para peserta diajak memahami bahwa pengelolaan keuangan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan bekal akhirat.
Ketua Pengajian Al Jannatin, Hj. Aniek Andi Sulistiono, berharap kegiatan tersebut dapat terus memberikan manfaat bagi seluruh anggota PKK sekaligus memperkuat kebersamaan dalam mendukung berbagai program organisasi.
“Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Saya juga mohon dukungan agar kegiatan PKK semakin ditingkatkan, karena banyak lomba di tingkat kabupaten yang membutuhkan dukungan, termasuk dari kas PKK,” ujarnya.
Ia menilai pengajian rutin tidak hanya menjadi sarana memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antarkader PKK dari berbagai desa. Dengan kebersamaan yang terus terjalin, berbagai program pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Plh. Kepala Desa Kebaron, Nyoto, selaku tuan rumah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pengajian memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat yang mampu mengendalikan diri, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah agar kita mampu mengendalikan diri, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai tuan rumah, kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya di bidang keagamaan,” katanya.
Nyoto juga menilai tema “Duwik” sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa uang hanyalah alat untuk memenuhi kebutuhan, bukan sesuatu yang seharusnya menguasai kehidupan seseorang.
“Tema ‘Duwik’ sangat menarik karena uang hanyalah alat tukar yang harus digunakan dengan bijak. Uang bisa membawa manfaat, tetapi juga dapat menyengsarakan apabila disalahgunakan. Jangan sampai kita diperbudak oleh uang, karena itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Zainul Zikri Andi, M.H., mengajak seluruh jamaah untuk memandang uang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ia menekankan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh cara memperoleh dan memanfaatkannya.
“Tema uang ini sebenarnya sederhana. Uang hanyalah alat. Ia tidak membawa seseorang ke surga maupun ke neraka. Yang menentukan adalah bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana cara kita menggunakannya. Jangan sampai kita menjadi orang yang diperbudak oleh uang,” pesannya.
Pesan tersebut mendapat perhatian para peserta karena dinilai relevan dengan tantangan kehidupan saat ini, ketika kebutuhan ekonomi semakin meningkat dan godaan gaya hidup konsumtif semakin besar. Melalui pemahaman keagamaan, anggota PKK diharapkan mampu menjadi teladan dalam mengelola keuangan keluarga secara bijaksana, mengutamakan kebutuhan dibanding keinginan, serta membangun kebiasaan hidup sederhana.
Pengajian rutin ini sekaligus menjadi wadah memperkuat sinergi antaranggota PKK se-Kecamatan Tulangan dalam mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat di tingkat desa. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah yang semakin mempererat tali silaturahmi serta semangat kebersamaan di antara seluruh peserta.



