Ada satu pesan dari Presiden PKS Almuzzammil Yusuf yang sekilas terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan lebih jauh terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah pertemuan kader di Bogor, Almuzzammil tidak sedang sibuk membicarakan strategi memenangkan pemilu, perebutan kursi parlemen, ataupun dinamika koalisi politik. Ia justru mengajak para kader untuk “pulang”.
Bukan sekadar pulang secara fisik ke rumah setelah selesai beraktivitas. Ada makna yang jauh lebih luas di balik kata tersebut.
Almuzzammil memperkenalkan gagasan Lima Rumah Perjuangan, yakni rumah tangga, rumah ibadah, rumah organisasi, rumah kebangsaan, dan rumah kemanusiaan.
Menariknya, rumah tangga ditempatkan sebagai rumah pertama sekaligus fondasi. Sebelum seseorang berbicara tentang perubahan besar, kepedulian terhadap bangsa, atau kemanusiaan universal, ada ruang yang seharusnya lebih dahulu diperhatikan: rumah sendiri.
Pesan tersebut terasa relevan di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk. Seseorang bisa begitu aktif membicarakan persoalan nasional di media sosial, tetapi pada saat bersamaan lupa bertanya kepada pasangan bagaimana harinya. Kita bisa hafal berbagai isu yang sedang viral, tetapi tidak mengetahui cerita terbaru dari anak sendiri.
Rumah Tangga, Fondasi yang Sering Terlupakan
Ketika berbicara mengenai perjuangan, banyak orang langsung membayangkan sesuatu yang besar: politik, organisasi, perubahan sosial, pembangunan bangsa, atau berbagai persoalan kemanusiaan.
Namun, gagasan Lima Rumah Perjuangan justru mengajak seseorang melihat sesuatu yang paling dekat terlebih dahulu, yaitu rumah tangga.
Rumah sering dianggap hanya sebagai tempat beristirahat setelah seseorang lelah bekerja. Padahal rumah seharusnya lebih dari sekadar tempat pulang. Rumah adalah tempat seseorang pertama kali belajar menjadi manusia.
Di sanalah anak belajar tentang kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, keadilan, hingga cara menghargai orang lain.
Sebelum mengenal aturan negara, seorang anak terlebih dahulu melihat bagaimana orang tuanya menyelesaikan konflik. Sebelum memahami konsep musyawarah secara formal di sekolah, anak sebenarnya sudah dapat mempelajarinya dari cara keluarga mengambil keputusan bersama.
Nilai keadilan pun dapat dipelajari dari hal sederhana, misalnya bagaimana orang tua membagi perhatian kepada anak-anaknya.
Karena itu, rumah tangga tidak semestinya dianggap sebagai urusan kecil.
Persoalannya, kehidupan modern justru kerap membuat rumah menjadi tempat yang paling jarang benar-benar kita datangi secara emosional. Secara fisik seluruh anggota keluarga memang berada di bawah satu atap, tetapi perhatian masing-masing bisa berada di tempat berbeda.
Bayangkan sebuah keluarga sedang makan malam. Semua duduk di meja yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan layar ponsel. Ayah membaca berita, ibu membuka media sosial, anak menonton video, sementara percakapan keluarga hampir tidak ada.
Secara fisik semuanya berada “di rumah”. Tetapi apakah mereka benar-benar hadir untuk satu sama lain?
Membangun keluarga karena itu tidak cukup hanya bermodalkan rasa cinta. Dibutuhkan komunikasi, kesabaran, komitmen, kemampuan mendengarkan, serta lingkungan yang mendukung.
Keluarga pun tidak harus menghadapi setiap persoalan sendirian. Lingkungan sosial yang sehat dapat menjadi ruang untuk saling menyapa, mengingatkan, dan memberi dukungan sebelum masalah kecil berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Dari Rumah Ibadah hingga Rumah Kemanusiaan
Setelah rumah tangga, gagasan Lima Rumah Perjuangan bergerak menuju empat ruang lainnya: rumah ibadah, rumah organisasi, rumah kebangsaan, dan rumah kemanusiaan.
Rumah ibadah menjadi ruang untuk mengingat kembali tujuan hidup sekaligus menjaga kedalaman spiritual.
Kesibukan dan ambisi tanpa pegangan nilai dapat membuat seseorang kehilangan arah. Kerja keras memang penting dan mengejar prestasi bukan sesuatu yang salah. Namun semua itu tetap membutuhkan alasan, tujuan, dan nilai yang menjaga perjuangan agar berada pada jalur yang benar.
Selanjutnya adalah rumah organisasi.
Di sinilah seseorang belajar bahwa perubahan besar tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Ada tujuan bersama, pembagian peran, tanggung jawab, komunikasi, serta proses saling menguatkan.
Organisasi mengajarkan bahwa setiap orang mempunyai posisi dan kontribusi masing-masing.
Dari rumah organisasi, cakupan perjuangan kemudian diperluas menuju rumah kebangsaan.
Jika rumah tangga mengajarkan seseorang mencintai orang-orang terdekat, rumah kebangsaan mengajak cinta tersebut diperluas kepada masyarakat dan seluruh Indonesia.
Perbedaan suku, daerah, latar belakang, maupun pilihan politik semestinya tidak menjadi alasan untuk kehilangan rasa sebagai satu bangsa.
Setelah itu, terdapat rumah kemanusiaan.
Pada titik inilah kepedulian tidak lagi berhenti hanya kepada kelompok sendiri. Menolong seseorang tidak semestinya selalu diawali dengan pertanyaan siapa dia, berasal dari mana, atau berada dalam kelompok apa.
Ketika melihat manusia lain membutuhkan pertolongan, kemanusiaannya menjadi alasan utama untuk membantu.
Jika disusun sebagai sebuah perjalanan, Lima Rumah Perjuangan memiliki alur yang menarik: dimulai dari keluarga, kemudian spiritualitas, organisasi, bangsa, lalu kemanusiaan.
Cinta dan kepedulian bergerak dari lingkaran paling dekat menuju lingkaran yang semakin luas.
Rumah Tangga dan Kekuatan Bangsa
Selama ini persoalan rumah tangga sering dianggap sebagai urusan privat. Selama tidak mengganggu orang lain, masing-masing keluarga dianggap dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Namun jika dilihat lebih jauh, kondisi keluarga mempunyai hubungan erat dengan kondisi masyarakat secara keseluruhan.
Sebuah bangsa terdiri atas jutaan keluarga.
Jika banyak keluarga memiliki hubungan yang sehat, komunikasi yang baik, serta nilai saling menghargai, kebiasaan tersebut berpotensi terbawa ke lingkungan sosial.
Sebaliknya, ketika rasa percaya dan kepedulian mulai hilang dari ruang paling kecil, dampaknya dapat terasa hingga ruang yang lebih besar.
Anak yang terbiasa berdiskusi di rumah, misalnya, mendapatkan pengalaman bahwa perbedaan pendapat tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran.
Anak yang melihat orang tuanya saling menghormati juga mendapatkan contoh nyata mengenai bagaimana hubungan yang sehat dibangun.
Karena itu, memperkuat keluarga bukan berarti menjauhkan diri dari persoalan bangsa. Justru keluarga dapat menjadi titik awal membangun masyarakat yang lebih kuat.
Tantangannya semakin besar di era digital.
Kita hidup dalam dunia yang membuat komunikasi terasa sangat mudah. Tinggal mengirim pesan, melakukan panggilan video, ataupun memberikan komentar di media sosial.
Namun koneksi digital tidak selalu sama dengan kedekatan emosional.
Seseorang dapat mempunyai ratusan teman di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian ketika menghadapi masalah. Seseorang juga bisa begitu aktif menyuarakan kepedulian terhadap berbagai isu publik, tetapi lupa menyediakan waktu untuk mendengarkan anggota keluarganya sendiri.
Di titik inilah pesan untuk “pulang” menjadi penting.
Pulang berarti kembali melihat apa yang selama ini mungkin terlewat karena kita terlalu sibuk mengejar sesuatu di luar rumah.
Sebelum Sibuk Memperbaiki Dunia, Periksa Rumah Sendiri
Ada godaan besar dalam kehidupan modern untuk terus bergerak keluar.
Kita ingin terlihat aktif, produktif, peduli, dan mempunyai pengaruh. Kita ikut membahas politik, ekonomi, sosial, hingga berbagai persoalan yang sedang ramai di internet.
Semua itu tidak salah.
Namun ada sejumlah pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan.
Bagaimana kondisi rumah sendiri?
Apakah pasangan merasa didengarkan?
Apakah anak merasa memiliki tempat untuk bercerita?
Apakah anggota keluarga masih dapat duduk bersama tanpa sibuk dengan gawai masing-masing?
Apakah rumah menjadi tempat yang membuat seseorang merasa aman ketika dunia di luar sedang tidak baik-baik saja?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya menjadi inti pesan Lima Rumah Perjuangan.
Perjuangan besar tidak selalu harus dimulai dari panggung besar.
Ia bisa dimulai dari percakapan kecil di meja makan. Dari orang tua yang memilih mendengarkan anak meskipun sedang lelah. Dari pasangan yang bersedia meminta maaf terlebih dahulu. Dari keluarga yang belajar menyelesaikan perbedaan tanpa saling merendahkan.
Dari rumah tangga, nilai-nilai itu kemudian dapat dibawa menuju rumah ibadah, organisasi, masyarakat, bangsa, hingga kemanusiaan.
Di situlah bagian menarik dari gagasan Lima Rumah Perjuangan.
Gagasan tersebut tidak hanya berbicara tentang politik maupun aktivitas organisasi, melainkan juga mengenai urutan prioritas dalam kehidupan.
Seseorang boleh memiliki cita-cita besar. Boleh ingin memperbaiki masyarakat. Boleh memperjuangkan bangsa dan membela nilai-nilai kemanusiaan.
Namun jangan sampai semua itu membuat rumah sendiri terlupakan.
Sebab peradaban besar tidak lahir begitu saja dari gedung megah ataupun panggung politik.
Peradaban dibangun perlahan dari rumah-rumah kecil yang dihuni orang-orang yang belajar saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, pesan Presiden PKS Almuzzammil Yusuf tentang Lima Rumah Perjuangan dapat dibaca sebagai ajakan sederhana untuk menata kembali arah kehidupan.
Mulailah dari rumah.
Rawat rumah tangga, kuatkan nilai spiritual, bangun kerja sama dalam organisasi, perluas kepedulian kepada bangsa, lalu buka hati untuk kemanusiaan.
Sebab sebelum ingin mengubah dunia yang begitu luas, barangkali ada satu pertanyaan yang patut kita jawab terlebih dahulu:
Sudahkah rumah kita sendiri baik-baik saja?
Penulis: Riyawan, S. HUT (pemerhati Sosial dan Budaya)





