Javasia.idJavasia.id
    Trending

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram
    Jumat, 24 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram YouTube RSS
    Javasia.idJavasia.id
    • Sosbud
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Sejarah
    Javasia.idJavasia.id
    Nasional Astri Nurfianti5 Maret 20246

    Eksistensi Perahu Tradisional Nelayan Indonesia Pada Zaman Kolonial

    Nelayan pada masa kolonial
    Ilustrasi Para Nelayan pada Masa Kolonial
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Email

    Pesisir pantai utara Jawa yang sebelumnya masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam mulai dikuasai VOC. Hal ini terjadi pada tahun 1743 Masehi.

    Keadaan tersebut menandai era baru kehidupan para nelayan di kawasan tersebut. Mereka mau tak mau harus mengikuti kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan Belanda.

    Selain itu, eksistensi kapal-kapal tradisional mulai digantikan dengan model kapal barat yang dinilai lebih mudah bermanuver.

    Nelayan Tradisional Sulit Berkompetitif Sebab Kolonia memonopoli Harga Kayu Jati

    Kegiatan perdagangan pada masa itu menggunakan perahu-perahu kecil. Hal tersebut tetap populer meskipun untuk perdagangan jarak jauh sudah dikuasai bangsa asing yaitu Inggris dan Belanda.

    Melansir Kemdikbud.go.id, monopoli harga kayu jati oleh pemerintah kolonial mengakibatkan nelayan tradisional kesulitan untuk bersaing dengan perusahaan galangan kapal asing. Kondisi ini semakin mempersulit ekonomi mereka.

    Dalam disertasinya, akademisi Doktor Pujo Semedi Hargo Yuwono mengangkat kehidupan nelayan di Pekalongan di masa kolonial.

    Pada saat itu, masuknya modal asing, perusahaan asing, serta kapitalisme modern mendorong munculnya pranata ekonomi baru di kalangan masyarakat nelayan.

    Salah satu biang masalah dari kondisi baru tersebut adalah munculnya para pemungut cukai yang ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya.

    Mereka merangkap menjadi rentenir, menyediakan uang pinjaman yang diputar di tengah masyarakat nelayan, sekaligus memonopoli perdagangan garam.

    Turunnya Populasi Ikan di Laut Jawa Salah Satu Faktor Nelayan Masa Kolonia Sulit Berkembang

    Masalah itu semakin diperparah dengan menurunnya populasi ikan di Laut Jawa secara bertahap. Pada tahun 1865, estimasi tangkapan ikan di pantai utara Jawa sekitar 258.502 ton. Tapi pada tahun 1904 menyusut jadi hanya 77.000 ton saja.

    Melansir Kemdikbud.go.id, penurunan tangkapan ikan, tekanan tengkulak, dan penguasaan komoditas untuk kegiatan ekonomi membuat masyarakat nelayan Jawa masa kolonial praktis tidak dapat berkembang menjadi masyarakat yang lebih makmur. Bahkan kondisi demikian masih dapat dilihat di masa kini.

    Meski tidak lagi menguasai lautan, para nelayan di pesisir utara Jawa tetap berinteraksi dengan laut. Mereka tetap berlayar di zona-zona tangkap tradisional mereka dan mempertahankan metode penangkapan ikan yang sudah dijalankan sejak dahulu.

    Eksistensi Perahu Tradisional Hasil Dari Desain Perahu Dalam Menjawab Tantangan Geografis

    Saat itu, ada beragam jenis perahu berukuran kecil yang digunakan para nelayan seperti perahu kolek, tembon, mayang, dan janggolan. Perahu mayang misalnya, desainnya tidak banyak berubah sejak abad ke-18.

    Eksistensi perahu tradisional itu tak lepas dari keberhasilan desain perahu tersebut dalam menjawab tantangan geografis.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleRugikan Nelayan Indonesia Ini Delapan Jenis Perjanjian Hasil KTM13 WTO
    Next Article Kampung Nelayan Mendapat Sembako Murah dari Pemprov DKI Jakarta

    Related Posts

    Syukuran Pangkat dan Halal Bihalal Lemasmil III Penuh Kekeluargaan

    11 April 2025

    PJS Sultra Makin Perkuat Eksistensi Media Siber di Daerah

    20 Desember 2024

    Semangat Ciptakan Wartawan Profesional di HUT ke-2 PJS

    27 Mei 2024

    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    HUT Ke-48 Perumda Delta Tirta, Bupati Subandi Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Disiplin Kerja

    7 Juli 2026

    Kukar Larang Perdagangan Daging Anjing, Kucing, dan Kera Demi Lindungi Kesehatan Masyarakat

    3 Juli 2026

    HM Jamhari Dorong Budaya dan Wisata Gunung Kelapis

    3 Juli 2026

    Musdes Loa Duri Ulu Susun RKPDes 2027, Prioritaskan Aspirasi Warga

    1 Juli 2026
    Advertisement
    © 2026 Javasia oleh Dexpert, Inc.
    Dikelola PT Javasia Media Utama
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.