Javasia.idJavasia.id
    Trending

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram
    Jumat, 24 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram YouTube RSS
    Javasia.idJavasia.id
    • Sosbud
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Sejarah
    Javasia.idJavasia.id
    Ekonomi dexpert13 Juni 20230

    Undang-undang Anti Deforestasi Uni Eropa Menimbulkan Ketidakpastian Pasar

    Denda dapat menjadi risiko bagi kinerja perusahaan-perusahaan ini di pasar saham
    ilustrasi bendera ue
    Ilustrasi Bendera UE (Reuters)
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Email

    Jakarta – Undang-undang Uni Eropa (UE) yang bertujuan untuk melawan deforestasi dan melibatkan produk sawit Indonesia telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha di Eropa. Beberapa di antara mereka bahkan khawatir bahwa mereka mungkin akan kehilangan posisi mereka di pasar.

    UE pada Desember lalu menyetujui UU baru itu untuk mencegah perusahaan menjual kopi, daging sapi, kedelai, karet, minyak sawit, dan komoditas lain yang terkait dengan deforestasi. Perusahaan harus membuktikan bahwa rantai pasokan mereka tidak berkontribusi pada perusakan hutan atau didenda hingga 4% dari omzet mereka di negara anggota UE.

    Hal ini pun mulai dikeluhkan pengusaha consumer goods Eropa. Union Investment Jerman, salah satu investor teratas di Unilever dan Reckitt, tahun lalu menulis kepada 56 perusahaan consumer goods untuk mencari tahu lebih banyak tentang deforestasi dalam rantai pasokan mereka.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Denda dapat menjadi risiko bagi kinerja perusahaan-perusahaan ini di pasar saham,” kata Henrik Pontzen, kepala ESG di Union Investment, yang memiliki saham di Nestle, Pepsico, Danone, Beyond Meat, dan L’Oreal, kepada Reuters, Selasa (13/6/2023).

    Dokumen internal Union Investment yang dilihat Reuters menunjukkan bahwa perusahaan hanya menerima 14 perusahaan yang mengatakan bahwa mereka memiliki operasional tanpa deforestasi.

    “Sebagai investor besar, ini sangat tidak biasa. Biasanya, kami menerima jawaban dari perusahaan manapun yang kami kirimi surat. Mungkin alasan untuk tidak menjawab adalah karena mereka tidak punya sesuatu untuk dikatakan.”

    Kekhawatiran serupa juga disampaikan investor consumer goods seperti Schroders, Janus Henderson, NBIM, Union Investment, KLP, Aviva, Fidelity International dan Ninety One. Mereka sedang berbicara dengan produsen tentang masalah ini, namun tiga di antaranya mengatakan akan mengidentifikasi emiten consumer goods yang mungkin akan mereka jual.

    Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan bahwa 420 juta hektare hutan hilang akibat deforestasi antara tahun 1990 dan 2020. Konsumsi UE mewakili sekitar 10% dari deforestasi global, menurut Parlemen Eropa. Minyak kelapa sawit dan kedelai menyumbang lebih dari dua pertiganya.

    Aturan baru akan mewajibkan perusahaan untuk memberikan formulir uji tuntas elektronik kepada petugas bea cukai yang menunjukkan bahwa rantai pasokan mereka tidak berkontribusi terhadap perusakan hutan.

    “Pembuat barang konsumen mengandalkan teknologi seperti satelit dan kecerdasan buatan untuk membantu memberantas deforestasi dari rantai pasokan mereka. Namun upaya itu mungkin tidak cukup untuk mematuhi aturan,” kata anggota parlemen Uni Eropa, Christophe Hansen.

    Meski begitu, beberapa perusahaan barang konsumsi besar mengatakan bahwa mereka hampir mencapai target nol-deforestasi yang ambisius. Nestle, perusahaan makanan terbesar di dunia, menargetkan sepenuhnya bebas deforestasi untuk kakao dan kopi hanya pada tahun 2025.

    Unilever, pembuat sabun Dove dan es krim Ben & Jerry’s, menargetkan rantai pasokan minyak kelapa sawit, kertas dan papan, teh, kedelai, dan kakao bebas deforestasi pada akhir tahun 2023.

    Magdi Batato, kepala operasi di dua anak usaha Nestle, Nescafe dan Kitkat, menganggap bahwa kecerdasan buatan dapat mempercepat prosesnya. Ia menyebut akan fokus menggarap metode ini.

    “Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan (di industri),” katanya.

    CPO Ekspor CPO Eropa Sawit UU Deforestasi Uni Eropa
    Share. Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleMenggebrak Politik, Kaesang Pangarep Serius Maju Calon Walikota Depok
    Next Article Utang BLBI Mbak Tutut dan Penyitaan Aset Tommy Soeharto

    Related Posts

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026

    BRI Krian Salurkan 17 Komputer untuk MI Ar-Rosyad

    19 Mei 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    HUT Ke-48 Perumda Delta Tirta, Bupati Subandi Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Disiplin Kerja

    7 Juli 2026

    Kukar Larang Perdagangan Daging Anjing, Kucing, dan Kera Demi Lindungi Kesehatan Masyarakat

    3 Juli 2026

    HM Jamhari Dorong Budaya dan Wisata Gunung Kelapis

    3 Juli 2026

    Musdes Loa Duri Ulu Susun RKPDes 2027, Prioritaskan Aspirasi Warga

    1 Juli 2026
    Advertisement
    © 2026 Javasia oleh Dexpert, Inc.
    Dikelola PT Javasia Media Utama
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.