Kukar – Penurunan debit air di sejumlah wilayah perairan Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memengaruhi aktivitas usaha budidaya ikan, khususnya karamba. Namun, hingga saat ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar belum menerima laporan adanya perubahan kualitas air yang membahayakan ikan maupun pelaku usaha
Kepala DKP Kukar, Muslik, mengatakan kondisi yang terlihat saat ini lebih banyak berkaitan dengan berkurangnya debit air. Kondisi tersebut membuat posisi sejumlah karamba yang sebelumnya berada di pinggir sungai harus bergeser lebih ke tengah mengikuti aliran air.
“Yang bermasalah itu berkurangnya debit air. Debit air itu juga yang mengakibatkan karamba-karamba terpaksa agak ke tengah,” ujar Muslik, Jumat (25/9/2026)
Menurutnya, kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah sungai bagian pedalaman dan hulu. Hal serupa juga terlihat pada sejumlah wilayah danau atau kolam. Sementara untuk kawasan Tenggarong dan sekitarnya, kondisi perairan masih cukup dipengaruhi pasang surut Sungai Mahakam
Muslik menegaskan, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat maupun pelaku usaha karamba terkait perubahan air yang berdampak signifikan terhadap kegiatan budidaya ikan.
Meski demikian, DKP Kukar tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi perairan Mahakam. Pemantauan dinilai penting mengingat adanya indikasi intrusi air laut di wilayah muara yang berpotensi bergerak ke kawasan sungai apabila kondisi tertentu terjadi
“Kalau misalnya nanti pH kemudian salinitas berubah, itu akan berpengaruh terhadap usaha budidaya dan ikan itu sendiri,” jelasnya
Untuk memantau kondisi tersebut, DKP Kukar mengandalkan penyuluh perikanan yang berada di lapangan. Para penyuluh terus mengikuti perkembangan kondisi perairan sekaligus memberikan imbauan kepada petani ikan agar meningkatkan kewaspadaan
Muslik menjelaskan, ikan pada dasarnya memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Jika perubahan kualitas air berlangsung secara perlahan, ikan dapat melakukan ruaya atau berpindah mencari habitat yang sesuai,” tuturnya
Namun, kondisi berbeda dapat terjadi apabila perubahan kualitas air berlangsung cepat dan menyebabkan air menjadi sangat buruk atau “bangar”. Dalam kondisi tersebut, ikan dapat mengalami gangguan karena tidak memiliki waktu untuk menyesuaikan diri
“Kalau perubahan itu pelan-pelan, ikan akan migrasi mencari tempat yang sesuai dengan habitat hidupnya,” katanya
Hingga saat DKP Kukar memastikan belum menerima laporan masyarakat mengenai dampak serius perubahan kondisi air terhadap usaha perikanan di wilayah tersebut. (ADV/Diskominfo/Kukar).
