Kukar – Jalan menuju penghasilan kini tidak hanya diarahkan ke pintu perusahaan. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperluas strategi ketenagakerjaan melalui digitalisasi layanan pencari kerja, pelatihan vokasi bagi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), serta pembentukan wirausaha mandiri di sejumlah kecamatan.
Kepala Disnaker Kukar, Dendy Irwan Fahriza, mengatakan salah satu upaya yang mulai berjalan adalah integrasi informasi lowongan melalui layanan digital Siap Kerja. Sejak layanan tersebut diluncurkan, sedikitnya tujuh lowongan pekerjaan sedang berproses. Kebutuhan tenaga kerja sejauh ini antara lain berasal dari sektor pertambangan, termasuk untuk posisi operator alat berat.
Digitalisasi tidak hanya menyangkut penyampaian lowongan. Sistem tersebut juga terintegrasi dengan pelayanan kartu pencari kerja atau kartu kuning sehingga masyarakat yang tinggal jauh dari Tenggarong tidak lagi harus selalu mendatangi kantor Disnaker untuk mengurus dokumen tersebut.
“Misalnya ada yang dari Kecamatan Tabang, dia bisa mengakses aplikasi Siap Kerja melalui gadget, melengkapi persyaratan, mengunggahnya di sana dan langsung mencetak kartu kuning melalui gadget,” jelas Dendy.
Sistem data tersebut sekaligus memungkinkan informasi pekerjaan disampaikan berdasarkan kompetensi pencari kerja. Ketika sebuah perusahaan membutuhkan tenaga dengan keterampilan tertentu, seperti operator alat berat, pencari kerja yang telah mempunyai sertifikasi kompetensi sesuai kebutuhan dapat menerima pemberitahuan melalui WhatsApp.
“Mereka yang sesuai kompetensinya akan mendapatkan informasi bahwa ada lowongan pekerjaan. Tinggal diklik dan diarahkan ke website untuk mengikuti tahapan lowongan tersebut,” katanya.
Selain mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara digital, Disnaker Kukar turut mengarahkan masyarakat terdampak PHK untuk memanfaatkan program pelatihan vokasi yang difasilitasi Kementerian Ketenagakerjaan melalui anggaran APBN.
Dendy menyebut sekitar 3.000 tenaga kerja terdampak PHK berpeluang memanfaatkan program tersebut. Pelatihan yang tersedia mencakup berbagai keterampilan teknis, salah satunya pemeliharaan dan perawatan pendingin udara atau AC. Peserta juga mendapatkan fasilitas berupa uang harian, makan siang, serta sertifikat pelatihan.
Pendaftaran pelatihan dibuka pada Jumat (25/9/2026) hingga Rabu (7/10/2026). Tahap wawancara dijadwalkan pada 12–13 Oktober 2026, pengumuman peserta pada 14 Oktober 2026, dan daftar ulang pada 15 Oktober 2026. Pelaksanaan pelatihan dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di Samarinda.
“Bagi yang terdampak PHK silakan mengikuti dan mendaftar pelatihan vokasi yang difasilitasi Kementerian Ketenagakerjaan. Biayanya dari APBN,” ujarnya.
Intervensi Disnaker Kukar juga bergerak ke sektor informal. Melalui program tenaga kerja mandiri, masyarakat diberikan pelatihan keterampilan sekaligus bantuan sarana untuk memulai dan mengembangkan kegiatan usaha.
Di Kecamatan Muara Wis, misalnya, program diarahkan pada keterampilan perbengkelan sepeda motor. Sementara di Sebemban, peserta mendapatkan pembekalan yang berkaitan dengan usaha pertukangan dan mebel. Program serupa direncanakan diperluas ke sejumlah wilayah lain, termasuk Loa Kulu, Sebulu, dan Tenggarong.
“Fokus kita saat ini menciptakan wirausaha mandiri. Mereka kita bekali keterampilan selama lima hari, kemudian diberikan sarana usaha,” kata Dendy.
Pemberian sarana usaha tidak menjadi akhir program. Disnaker Kukar berencana melakukan monitoring dan evaluasi pada bulan ketiga hingga keempat setelah bantuan disalurkan. Pengawasan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan kelompok binaan sekaligus memastikan usaha yang dirintis dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kelompok yang membutuhkan tambahan permodalan juga akan diarahkan untuk memanfaatkan Kredit Kukar Idaman Terbaik. Dengan pola tersebut, pelatihan keterampilan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan peserta, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan pendapatan.
Strategi itu sekaligus memperlihatkan dua jalur intervensi ketenagakerjaan yang dijalankan pemerintah daerah. Di satu sisi, Disnaker berupaya menyiapkan tenaga kerja agar dapat terserap perusahaan melalui informasi lowongan dan kegiatan seperti Job Fair. Di sisi lain, masyarakat didorong untuk menciptakan sumber penghasilan sendiri melalui wirausaha.
“Kalau pada saat Job Fair kita menyiapkan employer atau karyawan, yang ini kita menyiapkan owner, pemilik usaha mandiri,” tegasnya.
Kombinasi layanan digital, pelatihan vokasi, penyebaran informasi lowongan dan pengembangan tenaga kerja mandiri diharapkan memperluas pilihan ekonomi masyarakat Kukar. Dengan demikian, pencari kerja tidak hanya bergantung pada lowongan sektor formal, tetapi juga memiliki kesempatan membangun usaha dan menciptakan sumber penghasilan secara mandiri. (ADV/Kukar/Diskominfo).




