Kukar – Di tengah keterbatasan anggaran, semangat meningkatkan produksi pangan di Kutai Kartanegara tidak surut. Seperti pepatah “jalan sempit bukan berarti langkah terhenti”, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar terus mencari berbagai terobosan agar kebutuhan petani tetap terpenuhi dan program ketahanan pangan dapat berjalan optimal.
Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan kepada kelompok tani yang ingin membangun kemitraan dengan perusahaan maupun memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pihaknya terus mendorong kreativitas petani dalam memaksimalkan potensi lahan serta membuka peluang dukungan dari sektor swasta. Pendampingan itu diberikan dengan menyediakan data dan rekomendasi teknis yang dibutuhkan dalam penyusunan proposal kerja sama.
“Kelompok tani yang mengajukan usulan akan kami bantu dengan data dan rekomendasi yang akurat. Ini penting karena perusahaan membutuhkan informasi yang jelas agar program yang diusulkan dapat berjalan dengan baik,” ujar Rifani saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, Distanak Kukar siap membantu menghitung berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan dalam sebuah program pertanian. Perhitungan tersebut meliputi luas lahan yang dikelola, kebutuhan alat dan mesin pertanian, benih, kapur, hingga sarana produksi lainnya sehingga usulan yang diajukan memiliki dasar yang jelas dan mudah dipahami oleh calon mitra.
“Misalnya ada kelompok tani yang mengelola lahan seluas 20 hektare, maka akan kami hitung berapa kebutuhan traktor, benih, kapur, dan sarana lainnya. Semua disusun menjadi rincian yang jelas sehingga memudahkan perusahaan dalam menilai usulan tersebut,” jelasnya.
Meski demikian, Rifani menegaskan bahwa proposal kerja sama tetap diajukan dan ditandatangani oleh kelompok tani yang bersangkutan. Distanak hanya berperan sebagai pendamping dengan memberikan rekomendasi berdasarkan data yang valid dan sesuai kondisi di lapangan.
“Kami ingin mempermudah prosesnya. Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit. Yang terpenting datanya benar dan sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Selain mendukung kelompok tani dalam memperoleh akses kemitraan, Distanak Kukar juga melakukan berbagai langkah efisiensi dalam pelaksanaan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Salah satunya dilakukan dengan mendatangkan narasumber ke Kabupaten Kutai Kartanegara dibandingkan mengirim peserta pelatihan ke luar daerah.
Langkah tersebut dinilai lebih efektif karena mampu menjangkau lebih banyak peserta dengan biaya yang lebih rendah. Di sisi lain, pelaksanaan kegiatan di daerah juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang terlibat dalam penyediaan kebutuhan selama kegiatan berlangsung.
“Kalau narasumber kita datangkan ke sini, peserta yang terlibat bisa lebih banyak dan anggaran yang digunakan jauh lebih hemat. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat memberdayakan pelaku UMKM lokal selama pelatihan berlangsung,” pungkas Rifani.
Pendampingan yang dilakukan Distanak Kukar menjadi salah satu strategi untuk menjaga semangat swasembada pangan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Dengan dukungan data yang akurat dan kolaborasi bersama sektor swasta, diharapkan kelompok tani dapat semakin mandiri serta mampu meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara.
