Mojokerto – Di tengah keterbatasan akses ekonomi dan infrastruktur, sebuah inisiatif luar biasa telah membawa harapan baru bagi masyarakat di desa-desa terpencil Jawa Timur. Komoditas pisang yang dulunya hanya menjadi tanaman sela di antara pohon kopi kini menjelma menjadi sumber penghidupan utama, berkat pengelolaan dan bimbingan yang tepat.
Pondok Pesantren Segoro Agung yang berlokasi di Jalan Syeh Jumadil Kubro, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga penggerak ekonomi lokal melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di bawah Pembina Mayjen Pur Gautama Wiranegara pondok ini terus menunjukkan eksistennya dan menjadi rakmatan lil alamin.
Diprakarsai oleh KH. Bimo Agus Sunarno sebagai pendiri Pondok Pesantren Segoro Agung, para petani di Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember mulai menanam varietas unggul, pisang Mas Kirana. Langkah ini tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi.
“Dulu, petani hanya menjual pisang dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per tandan. Sekarang, kami membeli dengan sistem timbangan yang bisa mencapai rata-rata Rp 45.000 per tandan,” jelas KH. Bimo, yang akrab disapa Kyai Bimo.

Transformasi di Tiga Kabupaten
Proyek ini melibatkan lebih dari 1.000 kepala keluarga yang tersebar di tiga kabupaten. Di Bondowoso, Desa Pedati menjadi pusat pengembangan dengan 250 keluarga petani. Di Banyuwangi, terdapat kelompok petani di Kecamatan Sempu, Kalibaru, dan Purwoharjo. Sementara itu, di Jember, Desa Curah Takir, Sukorambi, dan Tanggul menjadi lokasi utama penanaman.
“Semua ini tak lepas dari semangat para petani dan dukungan kolaborasi dengan Lembaga Zakat Nasional Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Selain membantu dalam hal bibit dan teknologi, kami juga memberikan edukasi kepada petani tentang pengelolaan lahan dan sistem agribisnis,” tambah Kyai Bimo.
Nilai Lebih dari Pisang Mas Kirana
Pisang Mas Kirana memiliki keunikan karena hanya dapat tumbuh di daerah bersuhu dingin dengan ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Dengan sistem agribisnis yang terintegrasi, pisang ini tidak hanya dijual sebagai buah segar tetapi juga diolah menjadi produk turunan seperti sale pisang kirana, yang lebih dikenal sebagai “kurma Jawa.”
Sale pisang ini memiliki rasa manis legit tanpa tambahan gula atau pemanis buatan, menjadikannya favorit di pasar lokal maupun nasional. “Permintaan sale pisang meningkat drastis menjelang Idul Fitri, hingga mencapai 3 ton,” ungkap salah satu pengelola usaha.
Produk turunan ini juga memastikan bahwa tidak ada bagian dari pisang yang terbuang. Pisang yang tidak memenuhi kriteria untuk dijual segar di pasar akan diolah menjadi sale, menciptakan efisiensi dalam pengelolaan hasil panen.
Lokasi Budidaya Baru
Pada Januari 2025, program budidaya pisang Mas Kirana akan diperluas ke dua lokasi baru, yaitu:
- Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember
- Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember
Kedua lokasi ini dipilih karena memiliki sumber air yang memadai, tanah yang subur, dan berada di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Selain itu, masyarakat setempat telah menunjukkan komitmen untuk meningkatkan pendapatan keluarga melalui budidaya pisang.
Teknologi dan Sistem Budidaya
Proses budidaya pisang Mas Kirana dilakukan secara terencana, mulai dari persiapan lahan hingga pascapanen.
- Persiapan lahan: Lahan diolah pada akhir musim kemarau, dilengkapi dengan pupuk kandang dan agen hayati untuk mencegah penyakit.
- Penanaman bibit: Bibit unggul ditanam dengan jarak tanam tertentu untuk memastikan produktivitas maksimal.
- Pemeliharaan: Pemupukan dilakukan tiga kali dalam satu siklus produksi, dengan pemangkasan daun dan pengendalian hama secara rutin.
- Pascapanen: Buah pisang disortir, dikemas, dan didistribusikan ke mitra buyer sesuai standar mutu pasar.
Dengan pendekatan ini, hasil panen pisang Mas Kirana dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat di Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Saat ini, kebutuhan pasar mencapai 8 hingga 12 ton per minggu, sementara produksi baru mampu memenuhi 2 ton per pengiriman.
Dampak Sosial dan Pendidikan
Selain memberikan keuntungan ekonomi, program ini juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan sosial. Pondok Pesantren Segoro Agung, yang menjadi pusat inisiatif ini, memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak petani yang kurang mampu.
“Banyak anak di daerah ini yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Kami menerima mereka di pondok pesantren agar mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” kata Kyai Bimo.
Para petani menyambut baik program ini. Salah satu petani, Sulaiman dari Desa Pedati, mengatakan, “Dengan harga yang lebih baik dan edukasi tentang budidaya, kehidupan kami menjadi lebih sejahtera. Anak-anak kami juga mendapat kesempatan belajar di pondok pesantren.”
Harapan untuk Masa Depan
Keberhasilan budidaya pisang Mas Kirana menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pesantren, dan lembaga sosial dapat mengubah kehidupan di desa-desa terpencil. Dengan pengelolaan yang terus diperbaiki, program ini diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak wilayah di Jawa Timur.
“Semoga Allah selalu memberi kesehatan kepada Kyai Bimo dan semua yang terlibat dalam program ini. Kami berharap semakin banyak petani yang merasakan manfaat dari budidaya pisang Mas Kirana,” pungkas seorang petani di Kecamatan Sukorambi.
Dengan komitmen untuk memberdayakan ekonomi lokal, program ini tidak hanya membantu petani meningkatkan pendapatan tetapi juga menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
