TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan perluasan program Terima Kasih Guru Ngajiku dengan menyasar tenaga keagamaan dari lima agama pada 2027.
Program ini dirancang untuk menjangkau hampir 3.000 tenaga keagamaan yang belum menerima insentif dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Setda Kukar, Fathul Alamin, mengatakan program tersebut masih dalam tahap penyusunan Rancangan Peraturan Bupati (Raperbup).
Empat unsur tenaga keagamaan yang menjadi sasaran meliputi guru agama, imam, marbot, serta khatib atau pengkhotbah.
Cakupan program diperluas agar tidak hanya menyasar tenaga keagamaan Islam, tetapi juga mencakup umat Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih merata kepada tenaga keagamaan yang berperan dalam pembinaan umat di Kukar.
“Insya Allah kita harapkan tahun 2027 itu sudah berjalan,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (23/10/2026).
Dalam pelaksanaannya, Pemkab Kukar akan menggunakan data tenaga keagamaan yang terdaftar di Kementerian Agama.
Data tersebut akan dicocokkan dengan data penerima insentif dari pemerintah provinsi agar bantuan kabupaten dapat menyasar mereka yang belum terakomodasi.
Fathul menjelaskan, besaran insentif direncanakan mengikuti ketentuan Pemerintah Provinsi Kaltim, yakni Rp500 ribu per bulan dengan sistem pembayaran akan dilakukan secara rapel setiap tiga bulan.
Berdasarkan data yang disampaikan Fathul, terdapat 1.775 rumah ibadah dari lima agama di Kukar.
Dengan asumsi setiap rumah ibadah memiliki empat unsur tenaga keagamaan yang menjadi sasaran program, jumlah penerima potensial diperkirakan mencapai lebih dari 6.000 orang.
Sementara itu, hingga 2026, Pemerintah Provinsi Kaltim telah memberikan insentif kepada sekitar 3.500 tenaga keagamaan.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Pemkab Kukar untuk menyiapkan bantuan bagi hampir 3.000 tenaga keagamaan lainnya melalui program yang direncanakan berjalan pada 2027.
Menurut Fathul, keberadaan tenaga keagamaan memiliki peran penting dalam menjaga kondusivitas masyarakat.
Guru agama berperan meningkatkan literasi keagamaan, imam dan marbot menjaga keberlangsungan rumah ibadah, sedangkan khatib atau pengkhotbah memberikan tuntunan kepada umat.
“Harapannya, empat unsur tenaga keagamaan dari lima agama ini dapat membantu pemerintah dalam menjaga kondusivitas dan keharmonisan masyarakat,” tutupnya. (Adv/Diskominfo/Kukar).
