Kukar – Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jembatan yang terus menghubungkan kebersamaan lintas generasi. Suasana itulah yang terasa dalam pelaksanaan Sedekah Bumi dan Bersih Dusun di Desa Jembayan Tengah, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang kembali digelar dengan penuh semangat gotong royong pada Rabu (24/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Dusun 2 Tudungan tersebut dihadiri Kepala Desa Jembayan Tengah Masnur beserta perangkat desa, Anggota DPRD Kutai Kartanegara Johansyah, Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Suprianoto, serta Sekretaris Camat Loa Kulu Khairuddinata. Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen dan rezeki yang diperoleh selama setahun terakhir. Tahun 2026 menjadi pelaksanaan kelima sejak tradisi tersebut kembali digelar secara rutin.
“Kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang diterima selama setahun terakhir. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima sejak tradisi ini kembali dilaksanakan secara rutin,” ujar Kepala Desa Jembayan Tengah, Masnur.
Masnur menjelaskan, tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan warga dalam seluruh rangkaian acara. Menurutnya, Sedekah Bumi tidak hanya menjadi sarana melestarikan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat yang terdiri dari beragam suku, agama, dan latar belakang.
“Ia berharap pelaksanaan di tahun yang akan datang semoga lebih meriah lagi dan tingkat partisipasi serta kebersamaan warga dapat terus terjalin dengan baik sehingga apa yang kita harapkan dapat terwujud,” harapnya.
Anggota DPRD Kutai Kartanegara, Johansyah, memberikan apresiasi atas komitmen masyarakat yang terus menjaga tradisi tersebut. Ia menilai Sedekah Bumi memiliki makna yang lebih luas karena mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Tradisi ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga. Saya berharap pada tahun-tahun mendatang kegiatan ini dapat berlangsung lebih meriah dan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus menjaga budaya yang telah diwariskan para pendahulu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kapolsek Loa Kulu, AKP Hari Suprianoto. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan tersebut menciptakan suasana yang aman, tertib, dan harmonis. Ia menilai nilai toleransi yang tumbuh dalam tradisi ini menjadi modal penting dalam menjaga kehidupan bermasyarakat.
“Di sini warga berasal dari berbagai suku dan latar belakang yang berbeda-beda. Nilai toleransi dan kebersamaan yang terus dijaga menjadi landasan utama dalam menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat dan itu menjadi harapan utama,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Loa Kulu, Khairuddinata, mengaku bangga karena tradisi tersebut terus berkembang. Menurutnya, meski Desa Jembayan Tengah tergolong desa yang relatif baru, masyarakat berhasil menjadikan Sedekah Bumi sebagai agenda budaya yang mendapat dukungan luas dari warga.
Pelaksanaan kegiatan tahun ini juga sepenuhnya dibiayai melalui swadaya masyarakat tanpa menggunakan anggaran pemerintah. Dana berasal dari iuran warga serta sumbangan hasil bumi, sementara setiap RT menyiapkan nasi tumpeng untuk disantap bersama sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi Sedekah Bumi dan Bersih Dusun dilaksanakan secara bergiliran di setiap dusun sehingga seluruh wilayah desa memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tuan rumah.
Tradisi yang terus dipertahankan ini diharapkan tidak hanya menjaga nilai budaya lokal, tetapi juga memperkuat persatuan, toleransi, dan semangat gotong royong masyarakat Desa Jembayan Tengah di tengah keberagaman yang terus tumbuh.
