Singa Gembara – Di balik kesederhanaannya, Desa Singa Gembara menyimpan kekayaan kuliner yang menjadi andalan baru dalam menggerakkan sektor ekonomi kreatif. Serabai kelapa muda, amplang ikan, beppa janda, dan kue amparan tatak kini tengah naik daun sebagai produk unggulan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) desa, didorong oleh semangat kolaborasi antara pemerintah desa dan pelaku usaha lokal.
Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa, menyatakan bahwa pengembangan UMKM menjadi salah satu prioritas pemerintah desa. Menurutnya, produk-produk kuliner lokal bukan hanya sekadar oleh-oleh, tetapi juga representasi budaya yang layak dipromosikan secara lebih luas.
“Kami akan terus mengembangkan UMKM ini, baik dari sisi pendampingan maupun permodalan. Ini potensi ekonomi masyarakat yang sangat besar,” ujar Hamriani saat ditemui di Kantor Desa, Jumat (14/11/2025).
Serabai khas Kutai dengan topping kelapa muda menjadi salah satu sajian paling digemari, sering hadir dalam acara keluarga maupun kegiatan adat. Amplang ikan, kerupuk renyah berbahan dasar daging ikan, juga terus mengalami peningkatan produksi sebagai oleh-oleh khas Kalimantan Timur yang sangat diminati wisatawan lokal.
Sementara itu, beppa janda—kue khas dari Pangkep—justru mendapatkan popularitas tinggi di kota Sangatta dan sekitarnya. Kue ini kini banyak diproduksi oleh UMKM perempuan di Singa Gembara, menjadi sumber penghasilan baru yang menjanjikan.
Kue amparan tatak, yang kerap hadir di pasar-pasar takjil saat Ramadan, tak kalah populer. Teksturnya yang lembut dan cita rasa manis legit membuatnya digemari oleh berbagai kalangan.
Pemerintah desa pun aktif memfasilitasi pelatihan, akses bahan baku, dan membuka jejaring pemasaran agar produk-produk ini bisa menembus pasar lebih luas. Tak hanya di tingkat lokal, tapi juga menyasar potensi penjualan online dan distribusi ke pusat oleh-oleh di Kutai Timur.
Dengan semangat pemberdayaan yang kuat, Singa Gembara berharap bisa mencetak pelaku UMKM tangguh yang mampu mengangkat kearifan lokal ke level ekonomi yang lebih tinggi. Program pendampingan terus berjalan agar produksi tetap konsisten, kualitas terjaga, dan nilai jual meningkat.
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi ekonomi desa yang tidak hanya mengandalkan sektor formal, tetapi juga menghidupkan potensi kuliner tradisional sebagai kekuatan utama desa. (ADV).
