Sangatta – Seperti gema nenek moyang yang hidup kembali di atas panggung terbuka, penampilan Tari Hudoq menjadi sorotan utama dalam penutupan Festival Pesona Budaya Kabupaten Kutai Timur pada Minggu (23/11/2025). Ribuan warga yang memenuhi arena festival tampak terpukau menyaksikan ritual yang sarat makna itu, digelar sebagai simbol doa agar masyarakat memperoleh panen yang melimpah serta terhindar dari hama perusak tanaman.

Di hadapan Bupati Kutai Timur, unsur Forkopimda, dan jajaran tamu undangan, para penari Hudoq dari sub-etnis Dayak Bahau dan Modang tampil dengan kostum tradisional yang mencolok. Mereka mengenakan topeng kayu berukir yang memadukan citra hama tanaman dan satwa liar—ikonografi yang selama berabad-abad dipercaya melambangkan perlindungan sekaligus pengharapan bagi kesejahteraan masyarakat. Seluruh tubuh penari tertutup kulit kayu, rumbai daun pisang, hingga helai daun kelapa yang bergerak ritmis mengikuti alunan musik tradisi.

“Festival ini Alhamdulillah berjalan dengan baik. Melalui pentas budaya seperti Hudoq, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur.

Tari Hudoq sendiri biasanya dibawakan oleh sebelas penari, masing-masing memakai topeng berbeda dan bergerak dalam pola yang telah diwariskan turun-temurun. Pada malam penutupan festival, formasi itu ditampilkan lengkap di lapangan terbuka, dikelilingi penonton yang menyemangati jalannya pertunjukan. Irama langkah para penari berpadu dengan suara dedaunan pada kostum mereka, menghadirkan suasana sakral yang jarang terlihat dalam pertunjukan umum.

Mulyono dalam laporannya turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang terus mendukung penyelenggaraan festival. Ia menekankan pentingnya festival budaya sebagai sarana edukasi, rekreasi, dan pelestarian warisan leluhur. Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 Disdikbud Kutim telah memplot program pelatihan khusus bagi para pelatih seni tradisi, termasuk Hudoq, agar pembinaan kebudayaan berjalan semakin profesional.

Selain pertunjukan seni, festival yang telah digelar selama tiga hari ini juga diikuti UMKM lokal dari berbagai kecamatan. Kehadiran UMKM menjadi daya tarik tersendiri karena meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, khususnya sektor kuliner, kerajinan tangan, dan produk kreatif. Masyarakat terlihat antusias menikmati pertunjukan sambil berbelanja di stan-stan pelaku usaha lokal.

Penutupan festival menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan budaya tahunan yang semakin memperkuat identitas Kutai Timur sebagai daerah dengan kekayaan tradisi yang hidup. Pentas Hudoq, sebagai salah satu ikon budaya Dayak, menjadi bukti bahwa tradisi lama tetap mampu berdiri tegak di tengah modernisasi. (ADV)

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version