Gresik – Dalam suasana hangat dan penuh semangat keilmuan, KH. Dr. Yusuf Suharto menjadi salah satu narasumber utama dalam kegiatan Pendidikan Kader Guru Nahdlatul Ulama (PKGNU) angkatan pertama yang digelar di Pesantren Ihyaul Ulum, Gresik, pada Sabtu (17/5/2025). Ulama sepuh yang juga dewan pakar PC Pergunu Jombang ini menyampaikan urgensi peran guru NU sebagai penjaga dan penyebar nilai-nilai Aswaja di tengah tantangan zaman.
PKGNU yang diinisiasi oleh Pengurus Wilayah Pergunu Jawa Timur ini dihadiri ratusan guru dari berbagai kota/kabupaten se-Jatim. Para peserta mendapatkan materi strategis terkait fikrah dan harakah Aswaja, dua prinsip dasar Nahdlatul Ulama yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap kader pendidik NU.
Dalam pemaparannya, Yusuf mengangkat sejarah perdebatan antara tokoh-tokoh besar NU seperti Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri dengan tokoh Muhammadiyah, Kiai Abdul Mu’ti. “Perbedaan pendapat adalah hal biasa di kalangan ulama. Yang terpenting adalah sikap saling menghargai dan tetap dalam bingkai ukhuwah,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan konsep Fikrah Nahdliyah sebagai kerangka berpikir NU yang diperkenalkan oleh KH. Ahmad Shiddiq dan kemudian diformalkan dalam Munas Alim Ulama 2006. Penjelasan ini menjadi pengantar bagi pentingnya pemahaman mendalam terhadap Aswaja agar dapat diwariskan secara tepat kepada generasi berikutnya.
Kesan positif datang dari peserta, seperti Irma dari PC Pergunu Tuban. “Materinya sangat dalam dan membuka wawasan baru. Penjelasannya mudah dipahami,” ungkapnya. Hal senada disampaikan Wasil, Ketua Pergunu Bangkalan, yang merasa semakin memahami konsep Aswaja setelah mendengar uraian Yusuf Suharto.
Kendati usianya tak lagi muda, Yusuf Suharto tetap aktif menulis buku, mengisi forum ilmiah, dan membina generasi penerus. Menurutnya, guru adalah kunci dakwah Aswaja yang efektif, karena memiliki kedekatan dengan siswa dan pengaruh langsung dalam pembentukan karakter.
“Dengan kaderisasi guru NU ini, kita sedang menyiapkan generasi pendidik yang mampu menanamkan nilai Aswaja dengan cara yang relevan dan membumi,” pungkasnya, yang juga dikenal sebagai dosen di Universitas KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto.
PKGNU ini bukan hanya forum pelatihan, tetapi juga panggung konsolidasi ideologis dan kebudayaan, memperkuat jati diri NU di tengah arus globalisasi yang menantang.


