Javasia.idJavasia.id
    Trending

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram
    Sabtu, 25 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram YouTube RSS
    Javasia.idJavasia.id
    • Sosbud
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Sejarah
    Javasia.idJavasia.id
    Global dexpert11 Mei 20230

    Perpaduan Tak Terduga: China Runtuh, RI Terdampak Tak Terelakkan

    Perdagangan Indonesia-China tahun 2022 mencapai US$ 133,65 miliar, naik 17,7% dari tahun sebelumnya
    Bendera Nasional Indonesia dan China
    Bendera Nasional Indonesia dan China (.inet)
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Email

    Jakarta – China menjadi salah satu mitra dagang utama bagi Indonesia, sehingga pergerakan ekonomi di negara itu selalu memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama dalam hal perdagangan.

    Perekonomian China menunjukkan indikasi perlambatan selama dua bulan berturut-turut. Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengingatkan bahaya perlambatan China. China menyerap 30% ekspor Asia dan setidaknya 10% ekspor benua-benua lain. Bagi Indonesia, China menyerap hingga 23% ekspor.

    China merupakan negara mitra perdagangan Indonesia terbesar. Total perdagangan China dan Indonesia tembus US$ 133,65 miliar pada 2022 atau naik 17,7% dibandingkan 2021.

    Ekspor dan Impor Tertinggi dalam Sejarah

    Ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 65,92 miliar sementara impor dari Tiongkok mencapai US$ 67,72 miliar. Baik ekspor dan impor merupakan yang tertinggi dalam sejarah.

    Pada Januari-Maret 2023, ekspor ke China tercatat US$ 16,58 miliar atau naik 26,7%. Impor tercatat US$ 15,34 miliar atau turun 3,6%. Adapun sepanjang kuartal I-2023, Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 1,24 miliar terhadap China.

    Sementara itu, negara dengan khas binatang Panda itu baru-baru ini mengumumkan bahwa impornya mengalami kontraksi tajam pada April 2023, sementara ekspor naik dengan kecepatan yang lebih lambat. Artinya, ini semakin memperkuat tanda-tanda lemahnya permintaan domestik.

    Tercatat Impor Terbesar di Dunia

    Impor negara dengan size ekonomi terbesar kedua di dunia ini tercatat turun 7,9% (year-on-year/yoy) pada April, lebih dalam dibandingkan kontraksi 1,4% pada bulan sebelumnya.

    Data Bea dan Cukai China juga mencatat ekspor tumbuh 8,5% (yoy). Meskipun tumbuh namun angkanya berkurang dari 14,8% pada Maret lalu.

    Ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan tidak ada pertumbuhan impor dan ekspor akan meningkat sebesar 8%. Artinya, aktivitas perdagangan China lebih buruk dibandingkan ekspektasi.

    “Pada awal tahun ini, orang akan berasumsi bahwa impor akan dengan mudah melampaui level 2022 setelah pembukaan kembali, tetapi ternyata tidak demikian,” kata Xu Tianchen, seorang ekonom di Economist Intelligence Unit, Kamis (11/5/2023).

    Padahal, perekonomian China tumbuh lebih cepat dari yang diharapkan pada kuartal pertama berkat konsumsi jasa yang kuat.

    Namun, output pabrik telah tertinggal dan angka perdagangan terbaru menunjukkan jalan terjal dan panjang untuk mendapatkan kembali momentum pra-pandemi di dalam negeri.

    Sebelumnya, Biro Statistik Nasional (NBS) China pada Minggu (30/4/2023) mengumumkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur China pada April 2023 hanya 49,2. Pada Maret 2023, nilainya masih 51,6.

    Pelemahan Penurunan Global

    Penurunan PMI manufaktur terdampak oleh pelemahan penurunan global. Sementara di dalam negeri, penurunan PMI terutama terimbas oleh keputusan konsumen tetap meningkatkan tabungan sembari terus menunda belanja.

    Dalam laporan pada April 2023, IMF sudah mengingatkan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satu faktornya, penurunan pasar ekspor.

    IMF menaksir, pertumbuhan China tidak akan sampai 4% pada 2024. Sebelum pandemi, China bisa tumbuh di atas 10%, namun terus melambat sampai sekarang.

    Sementara lembaga riset S&P lebih dulu mengingatkan indikasi perlambatan manufaktur China. Di Pelabuhan Shanghai dan Shenzhen, jumlah kontainer kosong hampir mencapai rekor tertinggi.

    Peti kemas itu tidak kunjung terisi barang ekspor dari China ke berbagai negara lain. Kondisi itu terjadi kala perekonomian China disebut mulai kembali pulih pada 2023.

    China Economist Intelligence Unit NBS RI Xu Tianchen
    Share. Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleKepala BKPSDM Temukan Fakta Mengejutkan: Guru Lapor Pungli Gagal
    Next Article Mengenali Anjing Rabies: Ciri-Ciri dan Langkah Cegah Penularannya

    Related Posts

    Paparan Terbaik Scouting 5.0 Boarding Program Pengasuh Pesantren Pramuka Khalifa

    7 Juni 2024

    4 Hidangan Indonesia Bertengger di Jajaran Pameran Internasional

    7 Juni 2024

    Keajaiban di Hutan Kolombia, Empat Anak Selamat 40 Hari Setelah Kecelakaan Pesawat

    11 Juni 2023

    Comments are closed.

    Editors Picks

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    HUT Ke-48 Perumda Delta Tirta, Bupati Subandi Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Disiplin Kerja

    7 Juli 2026

    Kukar Larang Perdagangan Daging Anjing, Kucing, dan Kera Demi Lindungi Kesehatan Masyarakat

    3 Juli 2026

    HM Jamhari Dorong Budaya dan Wisata Gunung Kelapis

    3 Juli 2026

    Musdes Loa Duri Ulu Susun RKPDes 2027, Prioritaskan Aspirasi Warga

    1 Juli 2026
    Advertisement
    © 2026 Javasia oleh Dexpert, Inc.
    Dikelola PT Javasia Media Utama
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.