Javasia.idJavasia.id
    Trending

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram
    Jumat, 24 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram YouTube RSS
    Javasia.idJavasia.id
    • Sosbud
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Sejarah
    Javasia.idJavasia.id
    Ekonomi dexpert9 Juni 20235

    Ancaman Produk Murah China Terhadap Industri dalam Negeri

    Kain katun impor China hanya dibanderol Rp15.000 per meter, sementara kalau diproduksi lokal jadinya Rp30.000 per meter
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Email

    Jakarta – Perekonomian China meskipun mengalami pasang surut setelah terdampak pandemi Covid-19, upaya untuk memulihkan sektor manufaktur atau pabrik di negara tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

    Tingkat inventori perusahaan-perusahaan China tetap tinggi, sehingga banyak perusahaan yang melakukan penjualan klarifikasi atau mengosongkan gudang. Penjualan klarifikasi ini akan menyebabkan harga produk-produk China menjadi murah, yang dapat menjadi ancaman bagi industri dalam negeri.

    Ekonom Senior Raden Pardede menjelaskan, global demand yang melemah, ekspor dari China ke Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan. Sehingga banyak barang-barang yang diproduksi China tidak dipasarkan ke negara-negara seperti AS dan Eropa.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Kemungkinan dia (China) akan membanjiri kita dengan harga yang lebih rendah. Oleh karena itu, yang harus diantisipasi jangan sampai barang-barang dari Tiongkok itu masuk ke Indonesia secara ilegal atau mungkin melakukan dumping,” seperti diambil dari penjelasan Raden kepada CNBC Indonesia, seperti dikutip Kamis (8/6/2023).

    Hal ini yang kemudian, kata Raden harus diantisipasi, sehingga produk-produk seperti tekstil, garmen, yang cenderung padat karya tidak mengalami dampak atas situasi ekonomi China saat ini.

    Seperti diketahui, saat ini industri tekstil di Indonesia di tengah ancaman adanya pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena diperkirakan produk-produk murah China akan membanjiri tanah air.

    “Serbuan produk impor ini sudah puluhan tahun kami serukan. Dan agar impor ilegal diberantas. Maraknya perjanjian perdagangan dan sejenisnya itu membuat serbuan impor semakin bebas. Akibatnya mematikan produsen di dalam negeri,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (8/6/2023).

    Di sisi lain, dia mengakui, barang impor, terutama asal China memang murah dan kualitasnya pun masih mumpuni.

    “Kain katun impor China hanya dibanderol Rp15.000 per meter, sementara kalau diproduksi lokal jadinya Rp30.000 per meter. Nggak habis pikir memang gimana cara mereka (China) menghitung biayanya,”ungkap Ristadi.

    “Dan ini yang bikin ada pabrik kain, yang tadinya memasok kain ke perajin Batik di Pekalongan, beralih jadi importir kain dari China,” kata Ristiadi lagi.

    Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bank Central Asia (BCA), dari 98 kategori barang berdasarkan HS 2 digit, 41 barang mengalami volume impor dengan harga yang lebih murah, dibandingkan dengan kuartal I-2023.

    Berdasarkan data bea dan cukai China yang dirilis Rabu (7/6/2023), ekspor Negeri tirai bambu turun 7,5% secara tahunan sepanjang Mei. Senada dengan ekspor, realisasi impor juga turun 4,5% secara tahunan.

    Biro Statistik Nasional (NBS) China melaporkan Indeks manajer pembelian manufaktur (PMI) turun ke level terendah lima bulan di 48,8 tercatat turun dari 49,2 pada April. Angka PMI ini juga mematahkan perkiraan kenaikan menjadi 49,4.

    Kondisi ini jelas merupakan lampu kuning bagi Indonesia. China ada salah satu mitra dagang dan investasi utama Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah mengungkapkan, kontraksi 1% ekonomi China dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3% hingga 0,6%.

    Barang China Ekonomi China Ekonomi Indonesia Ekspor Impor
    Share. Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePenolakan Mahfud MD dan Sandiaga Uno Jadi Bacawapres Anies Baswedan
    Next Article Maju Mundur Proses Peralihan Participating Interest Shell ke Pertamina di Blok Masela

    Related Posts

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026

    BRI Krian Salurkan 17 Komputer untuk MI Ar-Rosyad

    19 Mei 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    HUT Ke-48 Perumda Delta Tirta, Bupati Subandi Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Disiplin Kerja

    7 Juli 2026

    Kukar Larang Perdagangan Daging Anjing, Kucing, dan Kera Demi Lindungi Kesehatan Masyarakat

    3 Juli 2026

    HM Jamhari Dorong Budaya dan Wisata Gunung Kelapis

    3 Juli 2026

    Musdes Loa Duri Ulu Susun RKPDes 2027, Prioritaskan Aspirasi Warga

    1 Juli 2026
    Advertisement
    © 2026 Javasia oleh Dexpert, Inc.
    Dikelola PT Javasia Media Utama
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.