Kukar – Air dalam prosesi Berlimbur bukan sekadar alat untuk saling menyiram, melainkan simbol penyucian diri yang menyimpan nilai budaya. Menjelang pelaksanaan tradisi tersebut dalam rangkaian Erau, Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara (Kukar) mengingatkan masyarakat agar tidak mencederai maknanya dengan menggunakan air kotor atau melakukan penyiraman secara berlebihan.
Kepala Dinas Pendidikan Kukar Heriansyah menyampaikan imbauan tersebut pada Jumat (25/9/2026). Pesan itu terutama ditujukan kepada generasi muda dan pelajar yang diperkirakan ikut meramaikan prosesi Berlimbur. Masyarakat diminta mengikuti tradisi dengan tertib serta menggunakan air yang layak dan bersih ketika melakukan penyiraman kepada peserta lainnya.
Menurut Heriansyah, penggunaan air bersih menjadi bagian penting dalam menjaga esensi Berlimbur. Tradisi tersebut memiliki makna membersihkan diri, sehingga penggunaan air yang kotor dinilai justru bertolak belakang dengan nilai yang hendak disampaikan melalui prosesi adat tersebut.
“Gayung agar nanti dalam proses berlimbur itu digunakan air yang bersih. Kita minta nanti Damkar, PDAM itu untuk mengisi drum-drum yang disiapkan oleh organisasi perangkat daerah,” ujar Heriansyah.
Untuk mendukung pelaksanaan Berlimbur, sejumlah pihak akan dilibatkan dalam penyediaan air bersih. Dinas Pemadam Kebakaran dan PDAM diharapkan membantu mengisi drum yang telah disiapkan organisasi perangkat daerah. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memiliki akses terhadap air yang layak selama mengikuti prosesi dan tidak mengambil air dari sumber yang kebersihannya tidak terjamin.
Penyediaan air bersih juga diharapkan dapat mencegah kebiasaan sebagian peserta menggunakan air secara sembarangan. Selain berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain, penggunaan air kotor dinilai tidak sesuai dengan semangat tradisi yang menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau.
Heriansyah menjelaskan, prosesi penyiraman dilakukan setelah air tuli datang. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan memercikkan air di kawasan Rangga Titi. Pelaksanaan Berlimbur diperkirakan berlangsung hingga sekitar pukul 15.00 Wita sebagaimana penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar memahami Berlimbur bukan semata-mata sebagai kesempatan untuk bermain air. Di balik kemeriahan tersebut terdapat nilai filosofis yang berkaitan dengan proses membersihkan diri dari berbagai hal buruk yang telah dilalui selama setahun.
“Berlimbur itu kan membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran kita selama satu tahun itu. Harapannya di tahun yang akan datang kita sudah bersih dan memulai sesuatu yang baru,” jelasnya.
Makna tersebut, menurut Heriansyah, harus menjadi perhatian masyarakat saat mengikuti prosesi. Mengambil air kotor atau menyiram orang lain dengan cara yang tidak semestinya justru dapat mengurangi nilai budaya yang diwariskan melalui tradisi Berlimbur.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian Dinas Pendidikan Kukar. Pelajar dan anak muda diharapkan tidak hanya hadir untuk menikmati kemeriahan Erau, tetapi juga memahami tata cara serta nilai yang menyertai setiap rangkaian adat. Kesadaran itu dinilai penting agar tradisi tetap berlangsung sesuai tujuan awalnya dan dapat diwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya.
Heriansyah juga meminta masyarakat menjaga ketertiban selama pelaksanaan. Penyiraman diharapkan dilakukan secara wajar, tidak membahayakan peserta lain, dan tetap menghormati orang yang berada di sekitar lokasi prosesi. Penggunaan air bersih menjadi salah satu bentuk sederhana untuk menunjukkan penghormatan terhadap tradisi tersebut.
Dengan dukungan penyediaan air dari pemerintah daerah serta kesadaran masyarakat, prosesi Berlimbur diharapkan dapat berjalan aman, tertib, dan tetap mempertahankan nilai budayanya. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kukar mengajak masyarakat menjadikan Berlimbur bukan hanya sebagai kemeriahan tahunan, melainkan momentum untuk memahami kembali pesan tentang penyucian diri dan memulai kehidupan dengan semangat baru. (ADV/DISKOMINFO/KUKAR).





