KUKAR – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Heriansyah, menekankan pentingnya menanamkan pemahaman sejarah dan kebudayaan daerah kepada generasi muda sebagai upaya menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Menurutnya, keberlangsungan adat dan budaya Kutai sangat bergantung pada keterlibatan generasi penerus dalam memahami, mencintai, serta menjaga nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Hal tersebut disampaikan Heriansyah saat diwawancarai dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 di Rumah Adat Kutai, Minggu (11/10/2026).
“Bagaimana Erau itu juga melibatkan anak-anak untuk bisa hadir dalam proses adat dan budaya kita, sehingga dengan mereka paham, mereka bisa mencintai adat dan budayanya,” ujar Heriansyah.
Ia menjelaskan, pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan upacara adat atau kegiatan seremonial. Generasi muda juga harus memperoleh pemahaman mengenai nilai sejarah dan filosofi yang terkandung dalam setiap prosesi.
Karena itu, keterlibatan anak-anak dalam berbagai kegiatan kebudayaan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat regenerasi pelaku budaya.
Heriansyah menyampaikan bahwa anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk hadir dan menyaksikan langsung berbagai prosesi adat. Melalui pengalaman tersebut, mereka dapat memahami makna kebudayaan yang selama ini diwariskan para leluhur.
“Apa makna di balik prosesi itu tentu harus tersampaikan kepada mereka. Tidak hanya tersosialisasi, kita harapkan ini terinternalisasi,” katanya.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah pada masa mendatang.
Ia menilai, generasi penerus tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki kesadaran terhadap identitas budaya dan sejarah daerahnya.
Heriansyah menegaskan bahwa keberlanjutan pembangunan daerah nantinya akan berada di tangan generasi muda. Karena itu, proses regenerasi harus disertai dengan penguatan pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan.
“Karena di tangan-tangan mereka inilah nanti masa depan wilayah itu akan dipegang. Jadi, mereka adalah proses regenerasi. Kita menyiapkan generasi masa depan untuk memahami tentang sejarah,” ungkapnya.
Ia berharap, kegiatan Erau Adat Pelas Benua tidak hanya menjadi momentum mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
Dengan pemahaman sejarah yang kuat, generasi penerus diharapkan mampu melanjutkan pembangunan daerah tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kutai. (ADV/Diskominfo/Kukar).
