Kukar – Pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026 memiliki sejumlah perbedaan dengan tradisi Erau yang diselenggarakan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Perbedaan tersebut terutama terlihat pada rangkaian ritual adat, tata cara pelaksanaan, hingga prosesi sakral yang menjadi bagian dari tradisi Kesultanan Kutai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, menjelaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya, kedua kegiatan tersebut tetap memiliki akar sejarah dan nilai budaya yang sama.
Hal itu disampaikan Heriansyah saat diwawancarai di Sekretariat Pemangku Adat Istiadat Kutai, Kutai Timur, dalam rangkaian kegiatan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026, Minggu (11/10/2026).
Heriansyah yang juga merupakan bagian dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengapresiasi penyelenggaraan Erau di Kutim. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Ia menjelaskan, Erau di Kutim sebenarnya telah beberapa kali diselenggarakan. Namun, pelaksanaan tahun 2026 menjadi momentum penting karena prosesi adat mendapatkan pendampingan langsung dari pihak kesultanan dengan mengacu pada pakem adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Heriansyah berharap penyelenggaraan Erau di wilayah adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tetap memperhatikan ketentuan adat yang berlaku agar nilai sejarah dan kesakralannya tidak mengalami pergeseran.
Menurutnya, Erau bukan sekadar perayaan budaya atau hiburan masyarakat. Tradisi tersebut memiliki makna mendalam sebagai momentum yang mempertemukan pemimpin dengan rakyatnya.
“Jadi Erau ini mempertemukan antara rakyatnya dengan pemimpinnya,” ujar Heriansyah.
Ia menerangkan bahwa istilah Erau berasal dari kata eroh yang bermakna ramai atau bergembira. Dalam tradisi kesultanan, terdapat sosok yang dieraukan, yakni Sultan atau pemimpin, kerabat yang menyelenggarakan, serta masyarakat yang turut merayakan.
Karena itu, pelaksanaan Erau memiliki dimensi sosial sekaligus spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Kutai.
Ritual Beluluh dan Bepelas Jadi Pembeda
Heriansyah mengungkapkan, salah satu perbedaan mendasar antara pelaksanaan Erau di Kukar dan Kutim terletak pada rangkaian ritual beluluh dan bepelas.
Dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Erau Tepong Tawar umumnya berlangsung selama tujuh hari. Sepanjang pelaksanaan tersebut, Sultan menjalani sejumlah prosesi adat yang telah ditentukan.
Setelah prosesi mendirikan Tiang Ayu di lingkungan keraton, Sultan menjalani ritual beluluh setiap sore, kemudian dilanjutkan dengan prosesi bepelas pada malam harinya.
“Kalau Erau di Kesultanan itu, setiap Ayahanda Sultan setelah mendirikan Tiang Ayu di depan keraton, maka pada jam empat sore selama tujuh hari beliau melakukan proses beluluh. Malamnya itu proses bepelas,” jelasnya.
Menurut Heriansyah, beluluh merupakan ritual yang memiliki makna penyucian diri, yakni meluluhkan energi negatif sekaligus menumbuhkan energi positif dalam diri seorang pemimpin.
Melalui prosesi tersebut, seorang Sultan diharapkan mampu menjalankan tanggung jawab kepemimpinannya dengan arif, bijaksana, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Sementara itu, ritual bepelas merupakan bagian dari rangkaian adat kesultanan yang dipimpin para dewa dan belian sebagai pelaksana ritual.
Dalam pelaksanaan di keraton, prosesi bepelas juga memiliki ketentuan tersendiri yang berlangsung secara bertahap selama tujuh malam.
Heriansyah menjelaskan bahwa rangkaian ritual tersebut tidak seluruhnya dilaksanakan dalam penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua di Kutim.
“Kalau di sini kan tidak dilakukan bepelas,” ungkapnya.
Meski demikian, pelaksanaan Erau Kutim tetap menghadirkan ritual beluluh yang melibatkan unsur pimpinan daerah dan pemangku adat.
Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi beluluh di Kutim diikuti Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, serta sejumlah unsur pemangku adat dan pimpinan daerah.
Tradisi Ngulur Naga Memiliki Makna Sejarah
Selain beluluh dan bepelas, Heriansyah menjelaskan bahwa pelaksanaan Erau di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara juga memiliki ritual khas berupa Ngulur Naga.
Prosesi tersebut merupakan bagian dari tradisi yang berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara.
Dalam pelaksanaannya, replika sepasang naga diberangkatkan dari lingkungan keraton menuju kawasan Kutai Lama di Kecamatan Anggana.
Kawasan tersebut memiliki nilai sejarah penting karena menjadi salah satu pusat awal pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara sebelum berkembang di Tenggarong.
Heriansyah menerangkan bahwa prosesi Ngulur Naga memiliki keterkaitan dengan kisah Putri Karang Melenu yang menjadi bagian dari sejarah dan tradisi Kesultanan Kutai.
Menurutnya, terdapat perbedaan dalam tata cara pelaksanaan ritual tersebut di sejumlah wilayah. Karena itu, pemahaman terhadap pakem adat menjadi penting agar masyarakat mengetahui makna di balik setiap tahapan prosesi.
Ia juga menjelaskan bahwa secara historis, Kesultanan Kutai mengenal beberapa bentuk Erau, termasuk Erau Tepong Tawar dan Erau Batu Samban.
Erau Tepong Tawar lazim dilaksanakan selama tujuh hari, sedangkan Erau Batu Samban dalam tradisi masa lalu dapat berlangsung hingga 40 hari 40 malam.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa setiap prosesi Erau memiliki ketentuan, tujuan, dan makna tersendiri yang diwariskan oleh leluhur.
Heriansyah Dorong Generasi Muda Memahami Budaya Kutai
Selain menjelaskan perbedaan ritual adat, Heriansyah menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam setiap penyelenggaraan Erau.
Sebagai Kepala Disdikbud Kukar, ia menilai kegiatan kebudayaan harus menjadi sarana pembelajaran agar anak-anak mengenal sejarah, memahami adat istiadat, serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan leluhur.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam kegiatan adat tidak cukup hanya sebatas menyaksikan pertunjukan atau mengikuti kemeriahan acara.
Generasi muda perlu memperoleh pemahaman mengenai makna filosofis setiap ritual sehingga nilai budaya dapat tertanam dalam kehidupan mereka.
“Tidak hanya tersosialisasi, kita harapkan ini terinternalisasi,” tegas Heriansyah.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan kebudayaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi penerus yang memiliki identitas dan kebanggaan terhadap daerahnya.
Terlebih, generasi muda saat ini akan menjadi pemimpin yang menentukan arah pembangunan daerah pada masa mendatang.
Karena itu, pengenalan sejarah dan budaya Kutai perlu terus diperkuat, baik melalui kegiatan pendidikan maupun keterlibatan langsung dalam berbagai tradisi masyarakat.
Heriansyah berharap pelaksanaan Erau di Kutim dan Kukar dapat terus menjadi ruang pembelajaran budaya sekaligus mempererat hubungan antara masyarakat, pemerintah daerah, dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Menurutnya, keberadaan adat istiadat yang masih dijalankan masyarakat saat ini tidak terlepas dari jasa para leluhur yang telah membangun fondasi kehidupan sosial dan budaya sejak berabad-abad lalu.
Dengan menjaga kesinambungan tradisi tersebut, ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah daerahnya, tetapi juga mampu mempertahankan identitas budaya Kutai di tengah perkembangan zaman. (ADV/Kukar/Diskominfo).
