KUKAR – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Heriansyah, menjelaskan bahwa prosesi beluluh dalam tradisi Erau Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan nilai-nilai kepemimpinan.
Menurutnya, beluluh bukan sekadar rangkaian ritual adat, tetapi mengandung simbol pembersihan diri dari pengaruh negatif sekaligus menumbuhkan nilai-nilai positif dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin.
Hal tersebut disampaikan Heriansyah saat diwawancarai dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 di Rumah Adat Kutai, Minggu (11/10/2026).
“Maknanya beluluh itu adalah meluluhkan, dari dua kata, buluh dan luluh. Meluluhkan energi negatif, menumbuhkan energi positif,” ujar Heriansyah.
Ia menjelaskan, prosesi beluluh merupakan bagian dari rangkaian adat yang memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan Erau di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dalam tradisi Kesultanan, prosesi tersebut dilakukan oleh Sultan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan adat yang berlangsung selama pelaksanaan Erau.
Heriansyah menerangkan bahwa nilai filosofis beluluh berkaitan erat dengan harapan terhadap sosok pemimpin yang mampu menjalankan amanah secara bijaksana.
“Sehingga harapannya Sultan itu dalam hal memimpin, arif dan bijaksana mengayomi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pemahaman terhadap filosofi tersebut menjadi penting agar masyarakat mengetahui makna yang terkandung dalam setiap prosesi adat.
Selain beluluh, Heriansyah juga menjelaskan adanya prosesi bepelas yang menjadi bagian dari tradisi Erau di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ia menerangkan bahwa kedua prosesi tersebut memiliki waktu pelaksanaan dan tata cara tersendiri.
Dalam tradisi Kesultanan, prosesi beluluh dilaksanakan pada sore hari, sedangkan bepelas berlangsung pada malam hari.
“Kalau di Kesultanan Kutai Kartanegara, setelah Sultan mendirikan Tiang Ayu di depan keraton, maka pada jam empat sore selama tujuh hari beliau melakukan prosesi beluluh. Malamnya itu prosesi bepelas,” jelasnya.
Heriansyah menilai, perbedaan prosesi dalam pelaksanaan Erau perlu dipahami sebagai bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Kutai.
Karena itu, pengenalan sejarah dan filosofi adat kepada generasi muda menjadi hal penting agar setiap tahapan tradisi tidak kehilangan makna.
Ia berharap, kegiatan Erau Adat Pelas Benua dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dengan pemahaman tersebut, tradisi diharapkan tetap lestari sekaligus menjadi sumber pembelajaran mengenai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan hubungan sosial dalam masyarakat. (ADV/Diskominfo/Kukar).
