Sangatta – Kunci keberhasilan pertanian tak hanya pada lahan atau cuaca, tetapi juga pada benih yang ditanam. Menyadari hal itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat ketersediaan benih unggul melalui pembinaan kelompok penangkar benih di berbagai kecamatan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung peningkatan hasil panen dan mengurangi ketergantungan terhadap benih dari luar daerah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menegaskan bahwa keberadaan kelompok penangkar memiliki peran vital dalam menjamin pasokan benih bermutu.
“Ketersediaan benih unggul menjadi kunci peningkatan hasil panen. Maka, peran penangkar benih di daerah ini sangat penting untuk menjamin pasokan benih yang tepat bagi petani,” ujar Dessy saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2025).
Saat ini, terdapat enam kelompok penangkar aktif di Kutim yang mengembangkan varietas unggul seperti Inpari 32, Mekongga, Inpari 48, hingga varietas lokal seperti Ambuyau dan Gedagai. Mereka tersebar di kecamatan Sangatta Selatan, Tanah Abang, Kaliorang, Miau Baru, Kaubun, dan Bengalon.
Kelompok seperti Umbut Aren di Sangatta Selatan dan Bangkit Bersama Etam di Bengalon, kata Dessy, telah berperan besar dalam memenuhi kebutuhan benih petani setempat. Bahkan, Balai Benih Induk (BBI) Kaliorang telah menjadi salah satu sentra benih unggul nasional.
“Benih-benih seperti Mekongga, Ciherang, Cakrabuana, dan Inpari 32 itu sudah terbukti adaptif di Kutai Timur. Sementara varietas lokal seperti Mayas Merah atau Gedagai adalah kekayaan genetik yang tetap kita pertahankan,” jelasnya.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah peningkatan kapasitas teknis penangkar. DTPHP Kutim menilai pendampingan intensif, mulai dari sertifikasi lahan, seleksi benih, hingga pascapanen, sangat dibutuhkan untuk menjaga mutu dan kepercayaan petani terhadap benih lokal.
“Kami terus melakukan pembinaan agar penangkar mampu menjaga standar mutu benih. Kualitas benih harus bisa dipertanggungjawabkan karena berpengaruh langsung pada hasil panen petani,” tambahnya.
Dessy juga menyoroti perlunya dukungan lintas sektor serta penguatan pendataan varietas di setiap kecamatan untuk memperluas jangkauan distribusi dan efisiensi perencanaan musim tanam.
Dengan berkembangnya penangkar lokal, pemerintah berharap pasokan benih lebih cepat dan tepat saat musim tanam tiba, serta menciptakan kemandirian benih unggul yang menopang ketahanan pangan Kutai Timur ke depan. (ADV).




