TENGGARONG – Penanaman padi dengan metode Tabela Dar di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sempat menjadi perbincangan luas di media sosial.
Cara tanam yang terbilang tidak biasa, yakni menebar benih padi langsung di kawasan perairan Danau Semayang, menarik perhatian warganet.
Tak sedikit yang mempertanyakan bagaimana tanaman padi bisa tumbuh di tengah kondisi lahan yang dipengaruhi pasang surut air danau.
Namun, tanaman padi yang sempat diragukan tersebut kini mulai memasuki masa panen.
Hamparan padi di kawasan Danau Semayang memperlihatkan hasil dari pola pertanian masyarakat setempat yang memanfaatkan kondisi alam ketika air danau mulai surut.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan panen di Desa Semayang mulai berlangsung pada awal November 2026.
Prosesnya diperkirakan berlanjut hingga pertengahan Desember, bahkan berpotensi sampai akhir Desember.
“Panen mulai berlangsung pada awal November dan diperkirakan berlanjut hingga pertengahan Desember. Bahkan, bisa sampai akhir Desember karena waktu tanam petani tidak serentak,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, pola tanam masyarakat di kawasan tersebut berbeda dengan sistem persawahan pada umumnya.
Petani menentukan waktu penanaman dengan melihat kondisi air danau, sehingga aktivitas tanam berlangsung secara bertahap.
“Pola tanam di sana memang sporadis atau tidak direncanakan secara serentak. Ketika kondisi danau mulai mengering dan mereka melihat peluang untuk menanam, mereka mulai menanam. Setelah itu, tetangganya menyusul menanam,” jelasnya.
Selain Semayang, aktivitas penanaman padi juga berlangsung di sejumlah wilayah sekitar danau.
Desa Melintang diperkirakan mulai memasuki masa panen pada awal Desember.
Kegiatan serupa juga dilakukan masyarakat Desa Pela serta Jantur di kawasan anak Danau Jempang.
Dari sisi dukungan, pemerintah telah menyalurkan bantuan benih padi masing-masing sekitar 1,5 ton untuk Desa Semayang dan Desa Pela.
Bantuan tersebut diberikan sebagai stimulan bagi petani yang mengembangkan pola tanam Tabela Dar.
“Bantuan pemerintah sekitar 1,5 ton untuk Semayang dan 1,5 ton untuk Pela. Itu hanya stimulan, karena sistem tanam yang mereka gunakan adalah Tabela Dar,” ungkapnya.
Dari bantuan tersebut, perkiraan luasan tanam mencapai 10 hingga 15 hektare.
Sementara itu, penanaman secara swadaya oleh masyarakat belum seluruhnya terhitung karena petani menggunakan benih dengan jenis yang beragam.
“Jenis padi yang ditanam berbeda-beda. Untuk bantuan pemerintah, varietasnya sudah ditentukan. Sementara itu, padi yang ditanam secara swadaya petani jenisnya campur-campur karena mereka menanam secara sporadis. Ketika ingin menanam, mereka membeli benih sendiri, terkadang beli ke tetangga,” tuturnya.
Mengenai potensi hasil panen, Rifani menilai metode tersebut cukup menarik untuk dikembangkan.
Salah satu faktornya adalah kebutuhan input pertanian yang relatif sedikit, ditambah kondisi tanah yang mendapat sedimentasi dari danau.
Meski demikian, Distanak Kukar belum dapat memastikan produktivitas maupun total produksi padi yang dihasilkan.
Pengukuran akan dilakukan melalui metode ubinan dengan mengambil sampel hasil panen dari petak berukuran satu meter persegi.
Hasilnya menjadi dasar untuk menghitung produktivitas dan memperkirakan produksi berdasarkan luas keseluruhan lahan.
“Potensi produksinya cukup menarik karena input yang digunakan petani relatif tidak banyak. Kondisi tanahnya juga relatif subur karena mendapat sedimentasi dari danau,” kata dia.
Sementara itu, pengaruh musim kemarau terhadap hasil panen masih perlu dikaji.
Rifani menyebut tanaman yang ditanam sebelum Juli berpotensi mengalami penurunan produksi, sedangkan tanaman yang ditanam setelah periode tersebut masih relatif normal.
Namun, dampak kemarau terhadap keseluruhan produksi belum dapat disimpulkan karena masih terdapat lahan yang belum memasuki masa panen.
“Penurunan produksi kemungkinan terjadi pada tanaman yang ditanam sebelum Juli. Sementara itu, tanaman yang ditanam setelahnya masih relatif normal. Namun, pengaruh musim kemarau terhadap produksi secara keseluruhan belum bisa kita perkirakan karena masih ada beberapa lahan yang belum dipanen,” terangnya.
Distanak Kukar akan melihat hasil panen secara keseluruhan sebelum menentukan dampak musim kemarau terhadap produktivitas padi Tabela Dar di kawasan danau.
“Nanti setelah panen selesai dan hasil ubinan diketahui, baru bisa kita lihat apakah terjadi penurunan produksi atau tidak,” tutupnya. (Adv/Diskominfo/Kukar).
