Samarinda – Kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi, tetapi harus menjadi “kompas perubahan” yang mampu menentukan arah perkembangan budaya sekolah. Pandangan itu disampaikan Kepala SMA Negeri 1 Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Dr. Yessi Herlina, S.S., M.Pd., dalam Webinar IKA Doktor Manajemen Pendidikan di Samarinda, Sabtu (29/8/2026).
Dalam pemaparannya, Yessi menekankan pentingnya strategi kepemimpinan transformatif yang menempatkan kepala sekolah sebagai agen perubahan. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan memastikan kegiatan pendidikan berjalan sesuai program, tetapi juga membangun budaya positif, memperkuat kerja sama, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kepemimpinan bukan tentang menjadi yang terbaik di depan, melainkan tentang bagaimana memetakan jalan dan menumbuhkan orang lain agar mampu melangkah lebih jauh serta melahirkan pemimpin-pemimpin baru,” demikian salah satu pesan utama Yessi dalam materi presentasinya.
Menurut konsep yang disampaikan, keberhasilan kepala sekolah tidak semata-mata diukur dari kemampuan mengambil keputusan. Seorang pemimpin pendidikan juga perlu memberikan ruang bagi guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan seluruh warga sekolah untuk berkembang, berinisiatif, serta berani mengambil peran dalam menciptakan perubahan.
Pendekatan tersebut diterapkan di SMA Negeri 1 Loa Kulu melalui berbagai program penguatan karakter peserta didik. Sejumlah kegiatan pembiasaan yang dijalankan di antaranya Sholat Dhuha berjamaah, ABA atau Ayo Baca Al-Kitab, Bina Baca Al-Qur’an, serta gotong royong menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari pembiasaan spiritual serta penguatan nilai religius peserta didik,” demikian penjelasan dalam materi Yessi terkait pelaksanaan Sholat Dhuha berjamaah dan ABA.
Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun karakter melalui kegiatan yang dilakukan secara konsisten. Pendidikan karakter tidak hanya diberikan dalam bentuk teori di ruang kelas, tetapi juga diterapkan melalui aktivitas sehari-hari sehingga nilai religius, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian dapat tumbuh menjadi kebiasaan.
Sekolah juga mendorong keterlibatan peserta didik dalam menjaga lingkungan. Melalui kegiatan gotong royong, para siswa diajak untuk memahami bahwa kebersihan dan kenyamanan sekolah merupakan tanggung jawab bersama.
“Peserta didik dilibatkan dalam kegiatan membersihkan dan merawat lingkungan sekolah sebagai upaya menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan,” demikian materi yang disampaikan Yessi.
Selain penguatan karakter, budaya kolaborasi menjadi unsur penting dalam kepemimpinan transformatif. Kepala sekolah tidak ditempatkan sebagai satu-satunya pusat gagasan. Guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite, dan orang tua juga dilibatkan dalam pengembangan program pendidikan.
Kolaborasi antarguru diperkuat melalui Komunitas Belajar Guru yang menjadi ruang bertukar pengalaman, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Guru membangun komunitas belajar sebagai ruang berbagi pengalaman, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan inspiratif,” demikian penjelasan dalam materi presentasi tersebut.
Tidak hanya membangun kerja sama di lingkungan internal, SMA Negeri 1 Loa Kulu juga memperluas jejaring dengan berbagai pihak eksternal. Sekolah menjalin kolaborasi dengan Universitas Mulawarman, universitas di China, Koramil, Polsek, serta sejumlah lembaga pendidikan lainnya.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi sekolah memperluas akses pengetahuan, pengalaman, pendampingan, dan pengembangan kapasitas warga sekolah. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat membuka wawasan akademik dan internasional, sementara keterlibatan Koramil dan Polsek dapat mendukung penguatan karakter, kedisiplinan, keamanan, serta kesadaran sosial peserta didik.
Peran komite sekolah dan orang tua juga menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan. Dukungan keluarga dibutuhkan agar nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan sekolah memperoleh penguatan ketika peserta didik berada di rumah dan masyarakat.
“Komite dan orang tua turut dilibatkan dalam mendukung berbagai program dan pengembangan sekolah,” demikian salah satu penekanan dalam materi Yessi mengenai budaya kolaborasi.
Pendekatan kepemimpinan transformatif tersebut juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Tujuan tersebut menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, setara, berkualitas, serta membuka kesempatan pembelajaran sepanjang hayat bagi seluruh masyarakat.
“Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan tanpa memandang jenis kelamin, latar belakang ekonomi, maupun disabilitas,” demikian salah satu prinsip pendidikan inklusif yang dicantumkan dalam materi Yessi.
Menurut pemaparan tersebut, kualitas pendidikan tidak cukup hanya dinilai berdasarkan pencapaian akademik. Sekolah juga perlu memastikan setiap peserta didik memiliki kesempatan yang adil untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi tanpa terkendala perbedaan latar belakang.
Yessi juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat. Perubahan teknologi, metode pembelajaran, dan kebutuhan peserta didik menuntut guru serta tenaga kependidikan terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kompetensi.
“Peran guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua, dan masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran yang mendalam, baik melalui dukungan moral maupun materiil, untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” demikian kesimpulan yang dipaparkan Yessi.
Melalui kepemimpinan transformatif, kepala sekolah diharapkan mampu menyatukan seluruh unsur pendidikan dalam satu visi perubahan. Sekolah pada akhirnya tidak hanya diarahkan mencetak peserta didik berprestasi secara akademik, tetapi juga generasi berkarakter, religius, peduli lingkungan, mampu berkolaborasi, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
