Kutim – “Satu jam untuk sekolah, untuk kita semua” tidak berhenti sebagai slogan ketika keluarga besar SMAN 1 Sangatta Utara bergotong royong membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah, Jumat (31/7/2026). Melalui kegiatan Satu Jam Bersama Orang Tua Murid–Jumat Bersih, sekolah, komite, orang tua, guru, dan siswa menyatukan tenaga untuk menghadirkan tempat belajar yang bersih, sehat, asri, serta nyaman.
Kegiatan yang digagas Komite SMAN 1 Sangatta Utara atau SMANSATARA itu untuk pertama kalinya melibatkan seluruh unsur sekolah secara bersama-sama. Selama kurang lebih satu jam, peserta membersihkan kelas, halaman, dan sejumlah area di sekitar sekolah. Gerakan tersebut membawa sejumlah pesan, antara lain “Jumat Bersih, Lingkungan Bersih, Sekolah Nyaman”, “Bersama Kita Peduli”, serta “Bersih Sekolah, Nyaman Belajar”.
Kepala SMAN 1 Sangatta Utara, Tatik Widayani, mengatakan Jumat Bersih menjadi langkah awal untuk membangun budaya peduli lingkungan di sekolah. Menurutnya, suasana yang bersih dan terawat akan membantu siswa belajar dengan lebih nyaman sekaligus menjadikan sekolah sebagai rumah kedua.
“Alhamdulillah, pada hari ini, Jumat tanggal 31 Juli 2026, untuk pertama kalinya SMA Negeri 1 Sangatta Utara bersama-sama dengan komite sekolah, komite kelas, dan murid-murid melaksanakan Jumat Bersih dalam rangka membersihkan kelas dan lingkungan sekolah,” kata Tatik Widayani.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung sekali, tetapi terus dilaksanakan sebagai agenda berkelanjutan. Keterlibatan orang tua dinilai penting karena pendidikan dan pembentukan karakter anak membutuhkan kerja sama antara keluarga dan sekolah.
“Mudah-mudahan kegiatan itu tidak hanya berjalan sekali ini saja, tetapi tetap berkelanjutan sebagai salah satu bentuk kepedulian orang tua terhadap sekolah. Kita saling berkolaborasi dan bersinergi antara sekolah, orang tua, dan murid,” ujarnya.
Dalam kegiatan sehari-hari, para siswa telah memiliki jadwal piket untuk menjaga kebersihan kelas masing-masing. Sementara itu, kegiatan Jumat Bersih bersama orang tua direncanakan berlangsung satu kali dalam sebulan dengan cakupan pembersihan yang lebih luas.
Sekolah juga melaksanakan penilaian kebersihan kelas yang melibatkan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah dan Majelis Perwakilan Kelas. Hasil penilaian diumumkan setiap Senin untuk siswa kelas X, XI, dan XII. Kelas yang paling bersih maupun yang masih perlu berbenah akan disampaikan sebagai bahan evaluasi.
Nilai kebersihan tersebut dikumpulkan selama satu semester. Pada akhir semester, sekolah akan memberikan penghargaan kepada kelas dengan hasil terbaik. Program ini diharapkan mendorong siswa menjaga kebersihan secara konsisten, bukan hanya ketika penilaian berlangsung.
Ketua Komite SMAN 1 Sangatta Utara, Basuki Isnawan, menilai Satu Jam Bersama Orang Tua Murid menjadi kegiatan penting karena membuka ruang keterlibatan keluarga dalam melihat langsung keadaan sekolah. Menurutnya, tanggung jawab orang tua tidak selesai setelah menyerahkan anak kepada guru.
“Kita biasanya hanya menyerahkan anak kita ke sekolah. Namun, kita juga perlu melihat bagaimana kondisi sekolah anak-anak kita, bagaimana kondisi kelas mereka, apakah nyaman, dan apakah kualitas lingkungannya baik atau tidak,” kata Basuki.
Ia mengatakan prestasi akademik maupun nonakademik sekolah perlu ditopang lingkungan yang sehat. Ruang kelas dan halaman yang bersih dapat meningkatkan kenyamanan belajar sekaligus membantu melindungi kesehatan warga sekolah.
“Lingkungan yang baik dan bersih itu penting untuk menunjang semua kegiatan. Tidak nyaman apabila mereka belajar, kemudian sakit karena lingkungannya tidak bersih,” ujarnya.
Basuki menambahkan, Jumat Bersih juga menjadi bentuk dukungan terhadap program kebersihan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan tersebut sejalan dengan semangat sekolah Adiwiyata yang mengedepankan kepedulian dan budaya berwawasan lingkungan.
Ia berharap siswa dapat meluangkan waktu lima hingga sepuluh menit secara rutin untuk membersihkan kelas dan lingkungan sekitarnya. Kebiasaan sederhana yang terus dilakukan diyakini mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak bangku sekolah.
“Setelah dari sekolah, ketika pulang ke rumah, mereka juga mau menjaga lingkungan rumahnya. Mereka bisa menyampaikan kepada orang tua, adik, dan tetangga. Kesadaran untuk menciptakan lingkungan bersih harus mulai dibangun dari sekolah,” katanya.
Dampak kegiatan tersebut juga dirasakan para siswa. Nur Aini Julia Putri, siswi kelas XII-7 Pajajaran, menilai kehadiran orang tua dalam Jumat Bersih bukan hanya membantu membersihkan sekolah, tetapi juga mempererat hubungan emosional dengan anak.
“Menurut saya, kegiatan hari ini dampaknya sangat besar dan tentu positif. Selain untuk kebersihan sekolah, kegiatan ini juga untuk kedekatan antara orang tua dan anak,” kata Nur Aini.
Ia menuturkan, sebagian orang tua memiliki kesibukan pekerjaan sehingga tidak selalu mempunyai banyak waktu bersama anak. Kehadiran mereka di sekolah membuat siswa merasa tetap mendapat perhatian dan dukungan.
“Banyak orang tua yang sibuk bekerja dan tidak sempat untuk anaknya. Dengan kegiatan ini, anak-anak masih merasa, ‘Wah, saya ternyata masih diperhatikan oleh orang tua saya sampai datang ke sekolah untuk membantu membersihkan sekolah saya,’” ujarnya.
Menurut Nur Aini, kegiatan berlangsung lancar dan mendapat dukungan yang baik dari para orang tua. Mereka tidak sekadar hadir, tetapi turut membersihkan lingkungan sekaligus mendampingi anak-anaknya.
“Hari ini berjalan lancar, semuanya ikut bersih-bersih. Orang tua juga banyak yang datang untuk mendukung anak-anaknya,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa tetap diselenggarakan pada masa mendatang. Pelaksanaan sekali dalam sebulan dinilai lebih memungkinkan dibandingkan setiap pekan karena perlu menyesuaikan jadwal pekerjaan orang tua.
“Mungkin satu bulan sekali, karena kalau setiap minggu bisa saja berbenturan dengan jadwal orang tua dan ada yang tidak sempat,” ujarnya.
Ketua Komite Kelas XI-3, Debbie, menjelaskan seluruh orang tua diajak hadir untuk membersihkan ruang kelas dan halaman. Kegiatan itu dijalankan melalui kerja sama komite, guru, siswa, dan keluarga.
“Kegiatan kita adalah satu jam bersama orang tua. Jadi, kita membersihkan kelas dan halaman sekolah. Semua orang tua diajak hadir dan bersama-sama ikut bersih-bersih,” kata Debbie.
Menurutnya, keterlibatan orang tua menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap perkembangan anak dan kemajuan sekolah. Ia berharap kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat terus dipertahankan.
“Semoga sekolah semakin maju dan kita semua sebagai orang tua bisa bersama-sama mendukung kemajuan anak-anak kita,” ujarnya.
Ketua OSIS SMAN 1 Sangatta Utara, Irvan Rasyad, turut menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi siswa. Sebelumnya, kegiatan kebersihan sehari-hari lebih banyak terpusat di dalam kelas. Kehadiran komite dan orang tua memungkinkan pembersihan menjangkau halaman serta area lain di lingkungan sekolah.
“Mungkin kegiatan ini sangat bermanfaat untuk teman-teman yang ada di sekolah ini, Pak. Karena seperti kita ketahui, di SMAN 1 Sangatta Utara kalau bersih-bersih biasanya hanya di lingkungan kelas saja. Dengan adanya komite, kita bisa bersih-bersih di lingkungan sekolah,” kata Irvan.
Pembersihan secara menyeluruh juga diharapkan dapat mengurangi sampah, genangan air, nyamuk, dan jentik-jentik yang berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan warga sekolah.
“Mungkin nyamuk dan jentik-jentik bisa berkurang semuanya,” ujarnya.
Irvan berharap keterlibatan komite tidak hanya berlangsung dalam urusan administrasi ataupun pertemuan resmi, tetapi semakin dekat dengan kehidupan siswa melalui berbagai kegiatan bersama.
“Harapan ke depannya, semoga komite sekolah bisa lebih dekat kepada siswa-siswa,” katanya.
Selain penilaian kebersihan, OSIS juga memiliki program penilaian kelas tercepat dalam menyiapkan barisan. Setiap kelas dipantau oleh penanggung jawab yang mencatat kecepatan dan ketertiban siswa. Hasil penilaian kemudian diumumkan saat upacara hari Senin.
“Di OSIS bukan hanya ada penilaian kelas terbersih, Pak. Ada juga kelas tercepat. Di setiap kelas kami mempunyai PJ yang menilai semua kelas,” kata Irvan.
Untuk penilaian kebersihan, para penanggung jawab berkeliling memeriksa ruang kelas setelah kegiatan belajar selesai. Kondisi kelas didokumentasikan melalui foto, kemudian dinilai dan dibagikan ke grup sebagai bahan evaluasi.
“Untuk kebersihan, setiap pulang sekolah masing-masing PJ akan berkeliling kelas untuk memfoto. Setelah itu, kami akan melakukan penilaian dan membagikannya ke grup,” ujarnya.
Program tersebut menjadi salah satu cara OSIS membangun persaingan positif antarkelas. Siswa didorong lebih disiplin dalam membuang sampah, menata perlengkapan belajar, membersihkan ruangan, dan menjaga ketertiban sebelum mengikuti kegiatan sekolah.
Melalui Satu Jam Bersama Orang Tua Murid–Jumat Bersih, SMANSATARA menunjukkan bahwa kebersihan sekolah merupakan tanggung jawab bersama. Ruang kelas dan halaman yang lebih bersih menjadi hasil nyata, sementara kedekatan orang tua dengan anak, kepedulian lingkungan, kedisiplinan, dan rasa memiliki terhadap sekolah menjadi nilai penting yang tumbuh dari kegiatan tersebut.
