Javasia.idJavasia.id
    Trending

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    PKK Tulangan Bahas “Duwik”, Dorong Bijak Kelola Uang

    22 Juli 2026

    Pemkab Sidoarjo Siapkan Wajah Baru Sentra Kuliner Gajah Mada, Konsep Modern untuk Bangkitkan UMKM

    22 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram
    Jumat, 24 Juli 2026
    Facebook Twitter Instagram YouTube RSS
    Javasia.idJavasia.id
    • Sosbud
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Sejarah
    Javasia.idJavasia.id
    Opini Dian18 April 202516

    Presiden dan Panggung Internasional: Ketika Kata Menjadi Peluru

    Tiffa Thrisea Bias Sawala, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang
    Tiffa Thrisea Bias Sawala, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Email

    Konflik Palestina-Israel kembali menyita perhatian dunia. Dalam beberapa pekan terakhir, kekerasan dan serangan udara yang menghantam wilayah Gaza telah menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi rakyat Palestina. Ribuan warga sipil menjadi korban, rumah-rumah luluh lantak, dan kehidupan seakan tidak memiliki jaminan hari esok. Dunia internasional, termasuk Indonesia, kembali menunjukkan gelombang simpati dan solidaritas atas tragedi kemanusiaan ini.

    Pemerintah Indonesia melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif, menegaskan kembali sikap tegas dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada 20 Oktober 2024 menyatakan bahwa Indonesia akan terus mendorong terciptanya keadilan dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Bahkan, Indonesia menyatakan siap mengirimkan bantuan tambahan dan melakukan evakuasi terhadap 1.000 warga Palestina yang menjadi korban perang.

    Namun, sikap ini justru memicu kontroversi. Alih-alih mendapat dukungan penuh, wacana evakuasi warga Palestina menuai kritik tajam. Sebagian pihak menilai langkah tersebut, jika tidak dilakukan secara hati-hati, justru akan memberi ruang bagi Israel untuk mengklaim kemenangan—dengan mengosongkan wilayah Gaza dari penduduk aslinya dan mengonsolidasikan pendudukan tanah yang menjadi sumber konflik berkepanjangan ini.

    Di sinilah letak kekeliruannya: evakuasi dalam konteks konflik yang berkaitan dengan perampasan tanah bukanlah solusi yang strategis. Ini bukan hanya soal keselamatan fisik, tetapi juga menyangkut hak historis dan kedaulatan Palestina atas tanah air mereka. Mengevakuasi warga yang seharusnya mempertahankan tanahnya justru memperlemah posisi diplomatik Palestina dan dapat dimanfaatkan sebagai pembenaran oleh pihak penjajah.

    Presiden Prabowo, sebagai kepala negara, seharusnya mempertimbangkan konsekuensi geopolitik dan dampak jangka panjang dari setiap pernyataan dan kebijakan luar negerinya. Dalam kapasitasnya sebagai simbol diplomasi Indonesia, ia perlu lebih selektif dan strategis dalam menyampaikan komitmen Indonesia terhadap isu-isu internasional, khususnya yang menyangkut konflik sensitif seperti Palestina.

    Solidaritas terhadap Palestina tidak hanya bisa ditunjukkan melalui bantuan kemanusiaan, tetapi juga dengan langkah diplomatik yang tegas dan keberpihakan yang cerdas. Indonesia harus mendorong penyelidikan internasional terhadap pelanggaran HAM oleh Israel, meningkatkan tekanan melalui boikot produk dan perusahaan yang berafiliasi dengan penjajahan, serta menggencarkan kampanye diplomatik agar Palestina memperoleh pengakuan sebagai negara merdeka dan berdaulat.

    Dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina selama ini tidak pernah surut. Aksi boikot, penggalangan dana, penyebaran informasi, hingga unjuk rasa damai, menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia berdiri tegak bersama Palestina. Ini harus diiringi dengan komitmen serius pemerintah dalam menjaga kesinambungan perjuangan tersebut di panggung internasional.

    Apa yang dibutuhkan rakyat Palestina hari ini bukan hanya bantuan logistik atau evakuasi semata, melainkan pengakuan dan perlindungan atas hak mereka untuk hidup merdeka di tanah mereka sendiri. Jika Indonesia benar-benar ingin berdiri bersama Palestina, maka cara terbaik adalah menjadi bagian dari solusi strategis untuk mengakhiri penjajahan dan mewujudkan kemerdekaan Palestina seutuhnya.

    Dalam menghadapi tragedi kemanusiaan ini, empati saja tidak cukup. Harus ada kejelasan arah, kecermatan diplomasi, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Palestina membutuhkan solidaritas yang bukan hanya hangat di kata-kata, tetapi nyata dalam tindakan. Saatnya Indonesia menunjukkan bahwa komitmen terhadap keadilan bukan sekadar retorika—melainkan prinsip yang dijalankan secara konsisten, cerdas, dan berpihak pada kebenaran.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleWabup Sidoarjo Tenangkan Aksi Tolak Pembongkaran PKL Pepelegi
    Next Article Pergunu Jombang Lantik PAC dan Luncurkan Buku Pegon: Gerakan Literasi Islam Nusantara yang Mengakar

    Related Posts

    Keadilan untuk Anak, Bukan Sekadar Janji

    20 Agustus 2025

    Penarikan Royalti Musik Harus Lewat Jalur Sah

    4 Juli 2025

    Danantara dan Jalan Baru Menuju Good Governance di Indonesia

    20 April 2025

    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    DPRD Kukar Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Rekrutmen Tenaga Kerja dan Persoalan Lingkungan

    24 Juli 2026

    HUT Ke-48 Perumda Delta Tirta, Bupati Subandi Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Disiplin Kerja

    7 Juli 2026

    Kukar Larang Perdagangan Daging Anjing, Kucing, dan Kera Demi Lindungi Kesehatan Masyarakat

    3 Juli 2026

    HM Jamhari Dorong Budaya dan Wisata Gunung Kelapis

    3 Juli 2026

    Musdes Loa Duri Ulu Susun RKPDes 2027, Prioritaskan Aspirasi Warga

    1 Juli 2026
    Advertisement
    © 2026 Javasia oleh Dexpert, Inc.
    Dikelola PT Javasia Media Utama
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.